Berternak sapi, kambing, atau ayam tentu sudah lumrah dijalani. Dimana-mana, di berbagai tempat, usaha ini dengan mudah ditemui. Tapi baga...
Berternak
sapi, kambing, atau ayam tentu sudah lumrah dijalani. Dimana-mana, di
berbagai tempat, usaha ini dengan mudah ditemui. Tapi bagaimana dengan ternak jangkrik?
Hanya sedikit orang yang menjalaninya. Tapi siapa sangka usaha ini ternyata
beromset besar. Bagaimana ceritanya?
Eman Rianto adalah sarjana lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi
di Jogjakarta. Sebelumnya pria ini bekerja di sebuah perusahaan swasta. Tapi
bukannya memilih berkarir di sana, Eman justru balik haluan menjadi peternak
jangkrik. “Ini sudah jadi hobi saya,” ujar pria berusia 42 tahun
ini singkat.
Pagi itu, Eman tampak sibuk memberi makan jangkrik-jangkriknya.
Satu persatu kotak-kotak yang berisi ribuan jangkrik diisi daun ubi muda dan gilingan
jagung. Setelah satu kotak selesai diisi pakan, Eman pindah ke kotak lain.
Begitu seterusnya.
Pakan favorit jangkrik antaralain jagung, kedelai, dan
kacang hijau yang semuanya harus digiling halus. Pemberian pakan dilakukan
setiap hari, terutama pagi.
Usaha peternakan jangkrik ini merupakan usaha keluarga.
Eman mendapat tugas secara teknis untuk mengurusi kandang. Sementara adiknya,
Agus Ponco bertugas di bidang pemasaran. Cabang usaha lain, seperti ternak
burung diurusi Adi Sunarman.
Usaha jangkrik ini menempati sebuah ruangan dengan luas
150 meter persegi yang sebelumnya merupakan sebuah rumah. Ada 300 kotak di ruangan
itu. Satu kotak bisa berisi 10.000 jangkrik.
Siapa sangka, rata-rata keluarga peternak jangkrik ini
adalah lulusan universitas di Jogjakarta. Adi Sunarman misalnya adalah lulusan
jurusan Biologi Lingkungan di Universitas Atmajaya Jogjakarta.
Ceritanya, saat kuliah di Jogja mereka pernah mendapat pelatihan
mengenai budidaya jangkrik. Selain untuk makanan burung, jangkrik ternyata
bernilai ekonomi sebagai bahan baku industri kosmetik dan obat-obatan.
“Jangkrik itu mengandung banyak omega 3, protein dan zat-zat lain yang berguna
sebagai obat dan kosmetik,” jelas Adi. Di Jogja, jangkrik banyak diteliti di
laboratorium.
Setelah kembali ke Pontianak mereka hendak membangun
pabrik ekstrak jangkrik untuk kosmetik dan obat tersebut. Tetapi karena sejumlah
alasan rencana itu pun gagal. “Ada beberapa peralatan yang sangat mahal
harganya. Misalnya alat untuk mengekstrak. Kami tak mampu mendatangkannya ke
sini,” cerita Adi.
Tapi bukannya berhenti, kakak beradik ini justru
meneruskan usaha beternak jangkrik. Tetapi fokusnya tidak lagi untuk industri melainkan
untuk kebutuhan pakan burung dan ikan. Peternak jangkrik memang masih belum
banyak, sementara kebutuhan akan jangkrik lumayan besar. Usaha ini mulai
berjalan pada tahun 2000. Saat itu jumlah pelanggan masih belum banyak.
Kini, pelanggan jangkrik mereka sudah menyebar ke
berbagai wilayah di Kalbar, mulai dari Sambas, Singkawang, Bengkayang, bahkan
hingga ke Melawi. Bahkan ada pelanggan yang berasal dari Serawak, Malaysia.
Felix Siahaan adalah satu diantara pelanggan setia
peternakan jangkrik ini. Felix tinggal di Nanga Pinoh, Melawi. Pagi itu, Felix
sengaja datang ke peternakan yang beralamat di Gang Ruper 2 Jalan Wahid Hasyim,
Pontianak, ini untuk memesan beberapa kotak jangkrik.
Pria yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai negeri
sipil ini punya banyak burung di rumahnya. Karena itu kebutuhan akan jangkrik menjadi
sangat penting. Dalam sebulan burungnya bisa menghabiskan 4 kotak jangkrik. Satu
kotak jangkrik sendiri berisi sekitar seribu ekor jangkrik. Harga sekotaknya
Rp.40 ribu. Jadi sebulan Felix harus menyediakan Rp.140 ribu untuk membeli
jangkrik. Meski demikian Felix tak keberatan. “Namanya juga hobi,” ujarnya.
Tidak semua burung menggunakan umpan jangkrik. Burung pemakan
jangkrik antaralain murai batu, kacer, cucak hijau, cucak jenggot, dan ciblek. Menurut
Felix, banyak teman-temannya sesama penggemar burung yang memesan jangkrik di
Pontianak. Sekali pesan bisa puluhan kotak yang biasa dikirim via bus atau
ekspedisi. Felix sendiri sudah 8 tahun berlangganan jangkrik di Pontianak.
Selain untuk umpan burung, jangkrik juga digunakan
sebagai umpan bagi ikan, terutama Arwana. Sama seperti manusia, arwana juga perlu
variasi soal makanan. Supaya tidak bosan. Ternyata jangkrik tergolong menu
spesial bagi purba ini. Adi punya 3
Arwana. “Seminggu biasa saya beli satu
kotak,” ujar Adi, sambil menunjukkan sebuah kardus yang berisi 500 jangkrik.
Saat ini peternakan jangkrik milik Eman bersaudara bisa
melakukan pembibitan sendiri dengan cara mengkawinkan silang beberapa jangkrik
seperti jenis Jelabang dan Jeliteng. Keduanya merupakan varietas jangkrik dari Jawa.
Tetapi karena permintaan yang cukup banyak, mereka masih harus membeli bibit
dari Jawa. Bibit ini akan ditetaskan di peternakan. Telur jangkrik sangat
lembut. Satu genggaman tangan bisa berisi ribuan telur.
Penetasannya tidak terlalu sulit. Cukup ditaburkan di kotak
yang diisi dedaunan kering. Dan kemudian akan menetas dengan sendirinya. Umur
25 hari jangkrik sudah bisa dijual pada para pembeli.
Seperti beternak ayam, terkadang ada saja masa dimana
penyakit banyak menyerang. Pernah beberapa waktu lalu, sebagian besar
jangkriknya mati terkena penyakit. Karena itu kini mereka senantiasa memberi
obat alami berupa daun sirih agar jangkriknya terhindar dari penyakit. Selain
itu untuk mencegah virus, juga dilakukan dengan cara menjemurnya.
Usaha ini boleh dibilang sudah berjalan lancar. Banyak
pelanggan yang datang sendiri ke lokasi peternakan. Ada juga minta yang
dikirimkan melalui paket ekspedisi. Dalam sehari, peternakan jangkrik ini bisa
menjual 50.000 hingga 150.000 ekor jangkrik. Harga satu ekornya adalah Rp.35.
Jika dihitung nilainya penjualannya adalah berkisar Rp.1.750.000 hingga Rp.5.250.000
perhari. Uang ini akan diputar kembali untuk kegiatan usaha.
Siapa sangka, jangkrik ternyata bisa menjadi sumber
penghasilan bagi keluarga. Ini memberi pelajaran, apapun usahanya jika digeluti
dengan sungguh-sungguh akan memberikan hasil yang memuaskan. **
COMMENTS