Lidia Lahe berkali-kali melongok keluar pintu. Tapi yang ditunggu-tunggu tak juga datang. Padahal pagi itu jam sudah menunjukkan pukul 7....
Lidia
Lahe berkali-kali melongok keluar pintu. Tapi yang ditunggu-tunggu tak juga
datang. Padahal pagi itu jam sudah menunjukkan pukul 7.30. Perempuan muda itu
lantas keluar ruang kelas dan berdiri di jalan masuk menuju sekolahan.
”Beginilah di sini. Guru harus sabar menunggu murid datang,” kata Lidia tentang
siswanya yang sering terlambat masuk sekolah, awal Maret lalu.
Tak
berapa lama beberapa anak yang ditunggu nongol dari ujung
jalan. Lidia meminta mereka untuk langsung masuk kelas. Anak-anak berseragam
pramuka dan kebanyakan tak bersepatu itu bergegas masuk ke ruangan. ”Kalau
tidak kita suruh masuk, bisa-bisa mereka malah bermain di halaman,” tambah
Lidia yang masih menunggu beberapa siswa lain-- yang tak beberapa lama kemudian
muncul.
Lidia
Lahe adalah guru di SDN 16 Nanga Hovat. Nanga Hovat adalah sebuah dusun yang
terletak di Pedalaman Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Jaraknya ribuan kilometer
dari Pontianak dengan waktu tempuh sekitar 20 jam perjalanan. Dusun ini dihuni
44 kepala keluarga.
Dari
ibukota Kabupaten Kapuas Hulu, Putussibau, perjalanan menuju ke dusun ini hanya
bisa dicapai dengan menggunakan jalur sungai. Tak ada jalan darat yang
menghubungkan daerah ini dengan dunia luar. Alat transportasi yang biasa
dipakai adalah perahu kayu yang dilengkapi dengan mesin motor atau biasa
disebut mesin tempel. Nanga Hovat sendiri merupakan dusun terakhir sebelum
benar-benar masuk ke hutan belantara di kawasan Taman Nasional Betung Kerihun.
Sekolah
ini hanya memiliki 2 orang pengajar: Lidia Lahe, guru sekaligus kepala sekolah
dan Marselinus Hajang, guru olahraga. Total siswa hanya 21 orang saja. Kelas I ada 4 siswa, kelas II ada
5 siswa, kelas III ada 4 siswa, kelas IV ada 1 siswa, kelas V ada 3
siswa, dan kelas VI ada 5 siswa.
Tak
ada yang benar-benar betah mengajar di sini. Sebelumnya ada satu guru honor,
namun sekarang tidak mengajar karena sakit-sakitan. Maka praktis, Lidia Lahe
harus menangani semua kelas. Marselinus Hajang yang seorang guru olahraga
membantu Lidia mengajar materi apa saja. Mereka membagi tugas. Lidia mengajar
kelas 4, 5 dan 6 dan Marselinus Hajang sisanya.
Sulit
membayangkan bagaimana satu ruangan diisi oleh 3 kelas. Tak ada dinding atau
sekat yang memisahkan masing-masing kelas. ”Saat saya menjelaskan pelajaran
kelas 6, siswa kelas 4 dan 5 juga ikut mendengarkan,” cerita perempuan lulusan
Pendidikan Guru SD ini. Meski begitu, dalam berbagai obrolan, tak ada sama
sekali pesimisme yang ditampakkan Lidia Lahe.
Marselinus
Hajang (25) yang sudah setahun mengajar di sekolah ini sudah merasakan betapa
sulitnya mengajar di daerah pedalaman. “Di sini siswa kurang termotivasi untuk
belajar,” ujarnya. Hajang bercerita, anak-anak sering diajak orang tuanya
berburu, mencari ikan, atau pergi berladang. Akhirnya siswa jadi sering bolos
sekolah.
“Dukungan
orangtua memang kurang. Mereka tak menganggap sekolah anak-anaknya penting,”
ujar Hajang. Terkadang ada saja orangtua yang datang ke sekolah meminta ijin
supaya anaknya bisa ikut mereka ke ladang.
Pemuda
setempat, Kaban mengatakan, kebanyakan orangtua mereka memang tak tamat sekolah
dasar. Karena itu pandangan mereka tentang nilai penting pendidikan juga tidak
begitu luas. ”Ya di sini kan kebanyakan orang ke hutan. Cari babi, ikan, rusa.
Pemikirannya ya seputar itu saja,” ujar pemuda 25 tahun ini.
Dusun
Nanga Hovat dihuni oleh Suku Bukat. Mereka sangat tergantung dengan kemurahan
alam. Mereka berburu,
mencari ikan dan mengumpulkan berbagai hal dari hutan. Cocok tanam dilakukan
dengan sistem berladang berpindah. Semuanya diajarkan secara turun temurun,
namun tidak memerlukan tingkat pendidikan yang tinggi.
Namun
di masa mendatang hutan tampaknya tak akan bertambah luas.Alam tentu saja tidak akan semurah
beberapa tahun sebelumnya. Pak Narok, tokoh masyarakat setempat, misalnya,
membandingkan sepuluh tahun lalu dengan saat ini. ”Dulu kami bisa dengan mudah
mendapatkan ikan atau babi hutan. Tapi sekarang sudah jauh berkurang,” ujarnya
saat ditemui sedang beristirahat di ladangnya. Dari apa yang dibicarakannya,
terbersit sebuah kekawatiran akan situasi di masa depan yang mungkin akan jauh
lebih sulit.
Atas
dasar pemikiran inilah, barangkali, yang membuat Pak Narok menjadi warga
pertama di kampung itu yang memecahkan rekor mampu menyekolahkan anak hingga
bangku SMA. ”Anak saya sekolah di kota. Saya harap dia mampu menjadi orang
pintar,” harap pria setengah baya ini.
Menurut
Lidia Lahe, anak-anak harus
sekolah supaya bisa membangun desa mereka. ”Kearifan lokal tidak boleh hilang,
namun pengetahuan formal juga penting.”
Marselinus
Hajang yang lulusan Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan di Pontianak
sebenarnya bisa saja memilih mengajar di kota, tapi dirinya justru merasa lebih
tertantang mengajar di pedalaman. ”Saya merasa lebih dibutuhkan di sini,”
ujarnya. Hajang tentu saja harus menerima segala resiko atas apa yang
diputuskannya: tinggal di rumah dinas yang kecil dan reot, tak ada listrik, tak
ada televisi, dan tak ada sinyal telepon.
Meski
Hajang adalah guru olahraga, dia harus juga mengajar bahasa Indonesia,
matematika, ilmu pengetahuan alam, atau sejarah. Dia bahkan harus mengajar
agama.
Pagi
itu, Hajang mengajar matematika. Dia bertanya pada para siswa. ”Anak-anak, satu
ditambah satu berapa?” Dengan serempak anak-anak menjawab, ”Dua, Pak”.
Tiba-tiba ada satu siswa yang menunjuk tangan. Dengan polos dia menjawab,
”Kalau saya tiga, Pak!” Anak menunjuk tangan itu duduk di kelas 2.
Lidia
Lahe mengatakan kemampuan siswa di sana memang sangat lemah. Hal ini tentu saja
karena jumlah guru yang kurang sehingga pengajaran tidak maksimal. ”Kami butuh
sekali tambahan guru,” ujar Lidia.
Beberapa
waktu lalu Lidia mendapatkan kabar gembira. Ada satu guru yang akan ditugaskan
mengajar di sana. Seorang perempuan. Tapi bukannya si guru yang muncul, tetapi
ayah si calon guru itu yang datang untuk memeriksa apakah tempat itu layak bagi
anaknya atau tidak. ”Setelah Bapak itu pulang, si guru tak pernah muncul.”
Pagi
itu, perempuan 29 tahun ini akan memberikan try out atau ujian
percobaan bagi siswa kelas 6. ”Sebentar lagi mereka ujian. Jadi saya ingin lihat kemampuan
mereka,” ujarnya sambil membagikan kertas berisi soal-soal ujian. Lidia meminta
siswa kelas 4 dan 5 untuk bermain-main di halaman sekolah agar tidak menganggu
konsentrasi siswa yang sedang mengerjakan soal. “Saya berharap mereka bisa
lulus semua,” ujarnya.
Beberapa
tahun sebelumnya, jarang sekali ada siswa yang bisa menamatkan sekolah dasar di
dusun ini. “Kebanyakan hanya sampai kelas 3. Mereka bilang bisa baca tulis
sudah cukup. Punya ijazah pun tidak bisa dipakai,” cerita Lidia.
Kini
kondisi sekolah sudah jauh membaik. Lidia terus memotivasi siswa agar tidak
putus sekolah. Lidia juga kerap berbicara dengan orangtua siswa dan memberi
pengertian pada mereka agar anaknya tetap sekolah.
Biasanya
Lidia memberi tambahan pelajaran ekstra bagi siswa yang hendak mengikuti ujian
nasional. Ujian Nasional tidak dilaksanakan di sekolah itu melainkan menginduk
di ibukota Kabupaten, Putussibau. Lidia menyiapkan perahu motor untuk membawa
siswanya ke kota. Tak jarang uang transport itu menggunakan uang pribadinya.
”Ada sih anggaran dari sekolah, tapi kadang kan tak cukup. Perjalanan
menggunakan air ini cukup mahal. Perahu membutuhkan bahan bakar yang cukup
banyak karena jarak yang jauh.”
Usaha
yang dilakukannya tidak sia-sia. Tahun lalu misalnya semua siswanya lulus
ujian. ”Saya memang tak bergaji tinggi. Tapi saya senang melihat siswa saya
bisa lulus sekolah. Saya harap mereka agar bisa melanjutkan ke SMP,” tutup
Lidia Lahe sembari mengemaskan buku-buku di meja. (*)
COMMENTS