Ekonomi hijau

Investasi dan kelestarian lingkungan itu seperti dua sisi mata uang. Bertolak belakang tetapi tidak bisa dipisahkan. Masuknya investasi ke...

Investasi dan kelestarian lingkungan itu seperti dua sisi mata uang. Bertolak belakang tetapi tidak bisa dipisahkan. Masuknya investasi kerap dituding merusak lingkungan dan menimbulkan problem sosial. Namun tanpa investasi sebuah daerah sulit berkembang. 
DI sebuah desa kecil bernama Semunying Jaya, Jamaluddin bersama warga lain selama lebih dari 7 tahun terus berjuang mempertahankan wilayah desa dan hutan adat mereka yang bersengketa dengan sebuah perusahaan perkebunan.
Ini adalah desa yang letaknya sangat jauh dari ibukota provinsi, Pontianak. Letaknya persis di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia, di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Warga desa ini terus berjuang mempertahankan hutan adat yang “dicaplok” perkebunan kelapa sawit. Sebagian besar kawasan hutan telah rata dengan tanah. Pembabatan hutan telah menghilangkan sumber kehidupan mereka. Jamaludin bercerita, sumber air minum warga bahkan sudah tercemar limbah. Kini kehidupan warga terasa semakin sulit.
“Sejak dari kakek kami, dari nenek kami, nenek moyang kami dulu, tidak boleh menebang pohon sembarangan. Pohon besar-besar itu harus dijaga. Itulah, kami menjaga luar biasa itu. Kalau orang kampung sini saja kalau menebang pohon di situ kami denda 300 ribu perbatang. Denda, kayunya nggak boleh diambil. Nah, sekarang perusahaan malah semakin brutal menghabiskan aset kami itu,” kata Jamaludin.
Berbagai upaya dilakukan warga, mulai dari demonstrasi, dialog hingga ke melapor kantor polisi. Agar tanah mereka kembali. Tapi justru beberapa kali warga harus berurusan dengan polisi.
Di tempat lain, bermil-mil jauhnya dari Semunying Jaya, kasus serupa juga terjadi. Tepatnya di desa Seruat Dua, Kabupaten Kubu Raya. Di desa ini warga juga berjuang mempertahankan sebagian wilayah hutan adat mereka yang kini menjadi konsesi sebuah perusahaan.
Hutan inilah yang selama ini menjadi salah satu sumber air bersih. Karena desa ini berada di daerah pesisir, hutan ini juga berfungsi menetralisir dan menahan air laut. Tetapi separuh lebih hutan ini telah berganti menjadi kebun kelapa sawit. “Kedatangan perkebunan telah membuat warga resah,” ujar seorang warga Muhammad Yunus. “Kami bingung bagaimana nanti nasib anak-anak kami,” tambahnya.
Masalah yang dihadapi warga di dua desa di atas hanyalah contoh kecil sejumlah problem yang dihadapi warga dengan masuknya perusahaan besar di Kalbar. Masih banyak lagi kejadian serupa di tempat lain. Dalam beberapa kasus, masuknya investasi selain menimbulkan masalah lingkungan dan juga kerap melahirkan konflik di masyarakat. Menurut data Walhi, pada 2011 saja misalnya sedikitnya ada 88 kasus terkait masuknya perkebunan sawit.
“Kasus yang terjadi antaralain terkait dengan kriminalisasi, penyerobotan lahan, perlawanan, perusakan lingkungan maupun konflik antara warga dengan perusahaan,” kata aktivis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalbar, Hendrikus Adam.
Investasi terus mengalir ke Kalbar. Yang cukup menggeliat adalah investasi di bidang perkebunan, khususnya perkebunan kelapa sawit. Hamparan sawit menyebar di berbagai kabupaten di Kalbar.
Dari data Dinas Perkebunan Kalbar diketahui alokasi lahan untuk perkebunan seluas 1,5 juta ha. Dari alokasi lahan ini sudah terealisasi penanaman seluas 683.108,19 ha oleh 205 perusahaan perkebunan kelapa sawit. Luasan perkebunan sawit akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Tanjungpura Eddy Suratman mengatakan, masuknya investasi seperti perkebunan skala besar di suatu daerah sebenarnya adalah hal yang normal. Bahkan suatu wilayah memang harus mengembangkan berbagai investasi. “Daerah yang sepi investasi juga tidak bagus. Tidak ada geliat ekonomi di sana,” ujarnya.
Investasi adalah satu kekuatan penting untuk mempercepat pembangunan daerah. Karena itu banyak daerah yang terus menggenjot investasi di daerahnya. Investasi yang masuk di Kalbar seperti perkebunan, pertambangan, energi, perikanan, dan sebagainya.
Tetapi, Eddy mengingatkan, investasi tetap harus bertanggung dan mengutamakan sisi pelestarian lingkungan. “Saat ini masih banyak ditemukan berbagai problem lingkungan terkait investasi ini,” ujarnya. Problem ini terjadi karena berbagai aturan yang sudah ditetapkan tidak dijalankan dengan baik.
Karena itu Eddy mendorong pemerintah secara tegas melaksanakan prinsip-prinsip green economy atau ekonomi hijau. “Prinsipnya, ekonomi harus mampu meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial, namun dengan tidak merugikan lingkungan hidup,” ujarnya.
Ekonomi hijau ingin menghilangkan dampak negatif pertumbuhan ekonomi terhadap lingkungan dan kelangkaan sumber daya alam. Selama ini diakui Eddy masih banyak perusahaan yang belum menerapkan prinsip ekonomi hijau. “Tidak boleh juga atas nama pertumbuhan ekonomi, kita mengeksploitasi sumberdaya alam secara berlebihan,” tambahnya.
Dalam kalimat sederhana green economy dapat diartikan sebagai perekonomian yang rendah karbon, hemat sumber daya alam, dan berkeadilan sosial. “Rendah karbon, karena meminimalkan emisi dan polusi lingkungan. Hemat sumberdaya alam artinya kita tidak berfokus pada eksploitasi sumberdaya alam. Pertambangan misalnya, tidak boleh itu dikeruk sebanyak-banyaknya dari bumi. Harus juga melihat anak cucu nanti. Dan berkeadilan sosial artinya tidak boleh masuknya investasi itu menimbulkan kemiskinan masyarakat di sekitarnya,” jelasnya.
Hal senada dikemukakan Manajer Program Kalimantan Barat, WWF-Indonesia, Hermayani Putera. “Masuknya investasi haruslah memberi manfaat lebih besar bagi masyarakat. Tidak boleh lagi sebuah bisnis yang ketika dibuka kemudian merusak dan merugikan sektor lain. Misalnya menyebabkan pencemaran, atau menurunnya kualitas air,” katanya.
Herma mendorong tumbuhnya investasi yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Misalnya ekowisata.  “Ekowisata itu justru harus mengeksploitasi tetapi bisa mendatangkan penghasilan. Dari ekowisata ini bisa tumbuh bisnis lain seperti hotel, restoran, dan sebagainya,” tambahnya. Hanya saja ekowisata harus digarap dengan maksimal. Sehingga benar-benar bisa menghasilkan.
Tantangan dalam penerapan ekonomi hijau menurut Herma adalah pada penerapan. “Prinsip-prinsip ekonomi hijau sudah ada, tetapi tinggal penerapannya saja yang masih kurang. Kita memang lemah soal ini,” katanya.  Kesadaran dan pemahaman akan pentingnya green economy juga masih rendah di hampir semua sektor, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat.

Eddy Suratman mendorong pemerintah tegas dalam mengaplikasikan prinsip ekonomi hijau. “Jika ada perusahaan yang memang terbukti merusak lingkungan ya pemerintah harus tegas. Tegakkan aturan. Ini kan demi kita bersama, tidak hanya untuk hari ini tetapi juga di masa depan,” katanya.** 

COMMENTS

Name

adsense,1,analisis,19,android,3,anime,1,apps,1,arafah,1,bank,1,barcelona,2,baterai,1,batre,1,battre,1,berita bola,2,bluemoon,1,bola,3,boros,1,browser,4,bulanbiru,1,camera,2,cara,2,chelsea,1,chrome,2,cleanenergy,1,cleanpower,1,creditcard,1,cyberlife,25,damage,1,daya ingat,1,defrag,1,doodle,1,energysehat,2,facebook,3,fakta,1,feature,17,finansial,1,fragmentasi,1,fungsi,1,gadged,1,Gadget,4,games,5,gempa,2,gigi,1,gmail,1,google,6,google maps,1,hacker,5,harddisk,2,harddrive,3,hardisk,2,hdd,3,hemat,1,Hiburan,5,hightech,2,ICC,1,icc 2015,2,indept news,12,indonesia,5,intenet,2,internet,1,INVESTIGATIVE REPORTING,12,ios,1,Islam,1,kartukredit,1,kebenaran,1,kehidupan,1,kenyataan,1,kesehatan,17,komputer,12,kuota android,1,laptop,5,malang,1,mastercard,1,meme,1,menangis,1,microsoft,10,motogp,1,mouse,1,mudik. motor,1,naruto,1,news,41,Office,2,OPINI,9,otak,1,papua,1,pc,4,pengendara,1,perawatan,3,pes,1,polandia,1,puasa,1,recovery,1,rupiah,1,savingpower,1,sepak bola,4,shopping,1,socialmedia,1,sport,2,sport news,6,spot news,21,techno,2,tekno,49,teknologi,3,tips,7,tips android,3,Tips Bloger,1,tombol tengah,1,trick,4,tutorial,24,ubisoft,1,unik,4,video,2,watchdogs,1,whirlpool,1,windows,10,windows 10,5,windows 7,1,windows 8,1,wiping,1,word,1,xbox,1,youtube,3,
ltr
item
SUARA PENYUNGKIL: Ekonomi hijau
Ekonomi hijau
https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQg3IheIjFLBR-O83BJcHcM87OoH0DRGLMv67be8YJ5mE-_kfQV
SUARA PENYUNGKIL
http://suarapenyungkil.blogspot.com/2014/03/ekonomi-hijau.html
http://suarapenyungkil.blogspot.com/
http://suarapenyungkil.blogspot.com/
http://suarapenyungkil.blogspot.com/2014/03/ekonomi-hijau.html
true
4155390560307898316
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy