Bangsa Indonesia sedang menghadapi berbagai masalah, kita sudah tahu sama-sama; bangsa ini didera krisis mulitidimensi juga sering kit...
Bangsa Indonesia sedang menghadapi berbagai
masalah, kita sudah tahu sama-sama; bangsa ini didera krisis mulitidimensi juga
sering kita dengar; petaka dan bencana datang silih berganti, sudah sama-sama kita rasakan. Belum selesai satu
bencana tertangani, di daerah lain sudah muncul bencana lain. Tsunami, banjir,
longsor, kekeringan, lumpur panas, dan sebagainya: hampir tak bisa kita hitung
satu persatu.
Bahkan Komaruddin Hidayat pernah
mengibaratkan bangsa Indonesia memanjat pohon yang salah. Ibarat memanjat pohon
yang tinggi, bangsa Indonesia telah mengeluarkan ongkos yang teramat mahal,
baik tenaga, kekayaan alam, utang luar negeri, maupun modal sosial untuk sampai
ke puncak. Tetapi sungguh ironis, sesampai di puncak pohon ternyata buah yang
didambakan tidak ada.
Dalam persoalan kesejahteraan banyak daerah yang
sangat miskin sementara ada daerah lain yang sangat maju. Di Kalimantan Barat
misalnya, yang selama ini menyumbangkan devisa dalam pengelolaan kayu, ternyata
daerahnya masih tertinggal. Sumber daya alamnya tersedot untuk Pusat sementara
di Kalbar sendiri rakyatnya masih belum sejahtera. Demikian pula dengan Papua,
Nusa Tenggara, dsb. Di Indonesia masih
banyak daerah lain yang masih belum sejahtera. Ketika terjadi perbedaan
yang begitu mencolok, di mana suatu daerah begitu lebih maju dibanding daerah
lain, sementara kekayaan alamnya telah diambil untuk membangun daerah yang kini
telah maju itu, itulah yang memunculkan rasa ketidakadilan.
Rasa ketidakadilan ini ditambah lagi korupsi,
kolusi, dan nepotisme sudah begitu kronisnya; kondisi perekonomian morat marit;
serta rendahnya kesejahteraan rakyat, tak ayal membuat kita kembali
mempertanyakan nasionalisme kita. Beberapa daerah ribut soal kemerdekaan,
sebagian lagi merasa lebih aman minta suaka politik ke negara lain, rasa cinta
tanah air kian memudar dengan pelan. Tentu ini tidak sehat. Ketika bangsa
Indonesia sedang mengalami berbagai problem, nasionalisme masih tetap
diperlukan sebagai sebuah kekuatan untuk menjaga keutuhan bangsa. Untuk itu
ruang ketidakadilan harus segera dimusnahkan dari muka bumi Indonesia dan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia mesti diwujudkan. Kita perlu
memaknai nasionalisme dalam tataran yang lebih luas: sebuah energi rasa cinta
bangsa dalam membangun sebuah gerakan bersama dalam perbaikan bangsa, bukan
nasionalisme sekadar upacara bendera.
Mencari Akar Persoalan
Filosof Yunani
Leucipos2 sekitar abad kelima pernah berkata: nihil fit
sine causa yang artinya tidak ada satu peristiwa pun yang tidak mempunyai
sebab. Mengacu pada Leucipos, bolehlah kita bertanya apa sebenarnya penyebab keterpurukan
Indonesia. Mengapa Indonesia yang sering diibaratkan sebagai zamrud
khatulistiwa dan punya sumber daya alam yang jauh lebih kaya dari Jepang,
Singapura dan China, ternyata sangat terpuruk.
Mencari penyebab berarti mencari akar persoalan
keterpurukan bangsa Indonesia. Saya tertarik ketika mendengarkan ceramah Prof.
Syarif Ibrahim Alkadrie3, guru besar Universitas Tanjungpura, yang
mengulas tiga macam teori untuk memahami berhasil tidaknya pembangunan atau
terpuruk tidaknya suatu bangsa. Pertama, Teori Modernisasi (modernization
perspective/ theory). Dalam teori ini dijelaskan bahwa keterpurukan suatu
bangsa disebabkan faktor dalam (internal faktor seperti: nilai-nilai budaya,
tradisi, adat kebiasaan sikap mental, moral, etos kerja, tanggung jawab, dan
disiplin). Malas, tidak disiplin, dan senantiasa mencari kambing hitam, tidak
bersemangat, kurangnya dorongan berprestasi, serta tidak mau belajar dari kesalahan: itulah beberapa faktor penyebab
keterpurukan bangsa Indonesia. Mengacu pada teori ini, supaya bisa bangkit dari
keterpurukan, rakyat Indonesia harus meninggalkan kebiasaan buruk tersebut dan
menggantinya dengan sifat-sifat yang memunculkan semangat untuk maju.
Kedua, Teori Ketergantungan (dependency
perspective). Dalam teori ini, penjelasan bahwa ‘faktor dalam’ sebagai
penyebab mandeknya pembangunan ditentang. Faktor luarlah yang menjadi
penghambat pembangunan, semisal kolonialisme Barat pada negara Dunia Ketiga.
Teori ini membagi negara-negara di dunia menjadi negara metropolis (negara
maju) dan negara satelit (negara dunia ketiga). Akibat dari sifat pragmatisme
metropolis, surplus ekonomi dari satelit
secara terus-menerus mengalir ke metropolis sehingga investasi di negara dunia
ketiga tidak berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan. Sejak pemerintahan
Orde Baru, Indonesia sangat tergantung dengan bangsa lain. Indonesia bahkan
menjadi negara pengutang. Bangsa Indonesia kehilangan identitas diri dan
kepribadian.
Solusi terhadap ketergantungan satelit pada
metropolis dapat dicapai dengan melaksanakan pembangunan secara mandiri. Di
sinilah perlunya bangsa Indonesia belajar dari perjuangan Gandhi di India dalam
membangun kemandirian. Kemandirian bangsa perlu terus dipupuk sehingga Indonesia
tidak terus bergantung pada negara lain. Soekarno dengan ungkapannya: Berdiri
Di Kaki Sendiri, pernah memberi kebanggaan akan harga diri bangsa.
Terakhir adalah Teori Pandangan Dunia (world
system theory). Jika dilihat dari faktor internal keterpurukan bangsa karena adanya kelompok
yang berkhianat kepada masyarakatnya sendiri dengan bekerjasama dengan kekuatan
eksternal sehingga menghancurkan masyarakatnya sendiri. Faktor ekternal: Semi
Pheriperal (Masyarakat Semi Pinggiran) dan Core Society (Masyarakat
Inti) dengan kekuatan modal, Iptek, dan legalitas global terus menekan Pheriperal
(Masyarakat Pinggiran) dalam rangka menyedot sumber ekonomi dari negara peripheral
itu.
Belajar dari Jepang yang pernah luluh lantak
dihantam bom atom namun mampu bangkit dan kemudian menjadi negara besar,
Indonesia niscaya juga mampu mengatasi berbagai krisis yang mendera. Lantas
kekuatan apa yang diperlukan? Nasionalisme. Rakyat Jepang punya nasionalisme
yang begitu tinggi terhadap bangsanya, demikian pula dengan Jerman dan Cina.
Rasa Nasionalisme itu mewujud dalam tekad bersama untuk memperbaiki bangsa.
Seperti rakyat Jepang yang begitu mencintai bangsa
dan negaranya, maka kecintaan terhadap Indonesia mesti menjadi bagian dari
hidup rakyat Indonesia. Kecintaan itu mewujud dalam sebuah pandangan untuk
memajukan bangsa ini. Jika semua rakyat sudah mencintai bangsa dan negaranya
maka hal ini akan menjadi energi besar bagi perubahan bangsa.
Ruang Optimisme
Di antara sekian banyak persoalan yang ada di
bangsa ini, yang masih sangat jarang kita dengar adalah optimisme dan upaya
bersama untuk keluar dari segala macam sengkarut tersebut. Yang lebih sering
kita dengar adalah nada pesimisme; rasa bangga ketika secara fasih bisa mencaci
maki kebobrokan bangsa dan pemerintahan sendiri; sesama anak bangsa berkelahi,
sesama pejabat negara saling menjatuhkan. Padahal yang lebih kita butuhkan
adalah optimisme sehingga kita bisa sama-sama bekerja untuk memperbaiki kondisi
bangsa saat ini. Katakanlah kita memanjat pohon yang salah, maka yang
dibutuhkan adalah bagaimana kita bisa turun dan kemudian belajar dari kesalahan
itu sehingga ke depan kita tidak lagi salah memanjat pohon.
Descartes4 pernah berujar: Aku selalu
mempunyai keinginan kuat untuk mempelajari bagaimana membedakan yang benar dari
yang salah, supaya terlihat jelas bagaimana seharusnya aku bertindak dan bisa
berkelana dengan kayakinan melalui hidup ini. Kata belajar adalah kuncinya.
Apakah bangsa ini, kita semua, sudah mau belajar agar mampu membedakan yang
benar dan yang salah. Apakah kita sudah belajar dari kesalahan-kesalahan?
Saya yakin bahwa manusia pada dasarnya baik dan selalu
bergerak menuju kebaikan. Saya setuju dengan Komarudin Hidayat bahwa dalam
kesadaran batinnya yang paling dalam, setiap manusia memiliki dorongan untuk
mencari makna. Dalam hal ini kejahatan dan kemerosotan moral manusia merupakan
penyimpangan dan kesementaraan sebagai dialektika menuju perbaikan dan
kemajuan. Jadi kita mesti bersabar, optimis,
dan secara kritis melakukan perbaikan terus menerus.
Optimisme saya bukan tanpa alasan. Kita bisa
melihat berbagai perubahan yang secara pelan tapi pasti mulai berjalan.
Ruang-ruang optimisme itu juga muncul ketika melihat banyak pemimpin baik
formal maupun non formal yang sudah sungguh-sungguh bekerja untuk perubahan
bangsa ini.
Generasi muda adalah tumpuan bangsa saat ini. Ada
anak-anak muda yang punya tanggung jawab dalam meneruskan sebuah estapet
pengelolaan negara ini. Harapan harus selalu ada dan dengan harapan itu kita
bisa melakukan hal yang besar. Kita bisa belajar dari anak-anak muda Indonesia
yang sudah berkarya untuk bangsanya. Mereka yang berkarya tidak untuk diri
mereka sendiri namun bagi kemanusiaan: mereka mampu memberikan optimisme bangsa.
Tempo pada akhir Desember 2006 memilih 10 Tokoh
Muda Indonesia5 yang dinilai telah memberikan sumbangsih mereka
kepada tanah air dengan melahirkan karya-karya yang bermakna bagi kemanusiaan.
Tri Mumpuni6 salah satunya. Di sana, di daerah terpencil di Sulawesi
Selatan, Tri Mumpuni mengajari warga membuat listrik murah, lalu menjualnya ke
pemerintah. Dia berjuang dengan tetesan keringat. Inilah wanita yang berani
menunggangi kuda jauh menembus hutan-hutan Sulawesi dan menyisiri daerah-daerah
pedalaman dengan semangat yang tinggi agar masyarakat di sana bisa menikmati
listrik. Dia gigih memberdayakan daerah terpencil, dan ulet mewujudkan apa yang
dianggapnya berkeadilan. Kisahnya mirip dengan perjuangan penerima Nobel
Perdamaian 2006 Dr Muhammad Yunus7 yang mendirikan Grameen Bank yang
memberikan kredit kecil kepada buruh, pengemis, dan orang-orang miskin di sana
supaya mereka bisa meningkatkan kesejahteraan mereka. Mereka: Tri Mumpuni dan
Muhammad Yunus, telah mengilhami banyak orang bagaimana bertindak bagi
kemanusiaan dengan hati yang tulus.
“Wajah mereka berkelebat di laboratorium, di
turbin air, di desa tandus, di musium tua yang dilupakan serta di ruang pengadilan
yang mendidih. Mereka kerap ditimpa kesepian karena memilih bertarung melawan
arus besar yang lama menelikung kita: korupsi, kolusi, nepotisme. Menciptakan
karya-karya yang bermartabat adalah pilihan mereka.” Tempo edisi 31 Desember
2006 menuliskan kata pengantar indah ini untuk mereka. Saya yakin masih banyak lagi tokoh muda di
berbagai pelosok Indonesia yang punya karya seperti mereka dan mengabdi untuk
kemanusiaan.
Setiap krisis melahirkan pemimpin. Negara yang
dalam kondisi krisis, rakyatnya dalam situasi kebingungan, gamang, dan
kehilangan spirit. Maka pemimpin itulah seharusnya yang dapat membangkitkan
optimisme rakyatnya. Krisis memang berat, namun seberat apapun krisis bila
pemimpinnya mampu membangkitkan optimisme bahwa suatu saat masih ada cahaya
terang, maka krisis bukanlah sesuatu
yang mustahil dilalui. Para pemimpin itu mampu membalikkan pesimisme yang sudah
akut menjadi harapan cerah. Mereka berusaha mendampingi rakyatnya untuk
sama-sama bekerja untuk perubahan yang lebih baik. Saat krisis, energi rakyat
dipompa lebih besar agar rakyat mampu memandang ke depan dan punya impian. Jika
Amerika punya American Dream, Indonesia layak punya Indonesian Dream.
Hurke Hedges dalam The Parable Of Pipeline membuat
ilustrasi menarik. Tahun 1801 di sebuah lembah di Italia, ada dua orang saudara
sepupu yang sangat ambisius: Pablo dan Bruno. Mereka memiliki cita-cita yang
tinggi. Kedunya bekerja mengangkut air dari sumber air ke penampungan di tengah
desa. Namun, jarak yang jauh dan kondisi jalan yang kurang memungkinkan adalah
rintangan terbesarnya.
Pablo memberikan usul,” Bagaimana bila kita
membangun saluran air?” Usulan pablo dianggap angin lalu oleh Bruno. Pablo
kemudian mengerjakan sendirian rencana itu, sementara Bruno tetap usahanya
sejak awal. Orang-orang di desa mengejek apa yang dikerjakan Pablo dan
menyebutnya Si Manusia Pipa. Namun dia terus mengerjakannya:
menyambung-nyambung batang-batang bambu. Sendirian. Dua tahun berlalu, saluran
pipanya akhirnya rampung. Orang-orang desa berkumpul saat air mulai mengalir
dari saluran pipa menuju ke penampungan air. Desa itu sudah bisa mendapatkan pasokan air bersih
secara tetap. Semua bergembira, hanya Bruno yang tampak murung dengan tubuh
bungkuk karena setiap hari mengangkut air.
Pablo berkata pada Bruno, “Dua tahun lamanya saya
bekerja untuk meyelesaikan pembangunan pipa itu. Selama itu saya belajar banyak
hal. Dan saya sudah mengerti bagaimana membangun saluran pipa dengan lebih
mudah. Sebetulnya saya bisa mengerjakannya sendirian, tetapi rasanya untuk apa
saya menghabiskan waktu satu tahun hanya untuk membangun satu saluran pipa.
Rencana saya adalah mengajari kamu dan warga desa lainnya, sehingga bisa
membangun sendiri saluran pipa untuk mereka. Semua tempat akan bisa teraliri
air.” Dalam kisah di atas tersimpan berbagai pesan yang barangkali bisa kita
jadikan pelajaran. Inilah kisah bagaimana manusia seperti juga Tri Mumpuni dan
Muhammad Yunus bekerja untuk kepentingan masyarakat luas.
Jika kita melihat sejarah dunia, bangsa-bangsa
yang maju seperti sekarang terlebih dahulu melalui berbagai krisis. Mulai dari
Amerika Serikat, Jepang, hingga China. Pada situasi apa dan bagaimana mereka
bisa mengatasi krisis itu? Kita bisa keluar dari krisis bila kita coba
menempatkan posisi tidak larut dalam dan terjebak dalam lingkaran krisis itu.
Demikian pula pada negara-negara itu:
Amerika Serikat, Jepang, dan China mampu membangun optimisme rakyatnya
untuk maju. Mereka telah bekerja keras hingga membuahkan hasil.
Jika kita petakan, krisis memiliki beberapa
tahapan krisis seperti sebuah kurva layaknya bukit. Dia memiliki lembah dan
bukit. Ada tahapan awal krisis, kemudian menanjak hingga mencapai klimaks, dan
seterusnya kemudian terus turun dan juga menuju pada kondisi normal. Di situ
dalam melalui tahapan krisis itulah
bagaimana para pemimpin menempatkan posisi sehingga bisa memetakan dan kemudian
mencari solusi atas krisis yang dihadapi. Jika kita melihat pada bangsa Indonesia
sekarang penulis optimis, karena riak-riak perubahan mulai tumbuh. Namun tidak
dalam satu waktu. Perubahan yang terjadi secara bertahap, pelan tapi pasti.
Kita bisa melihat di berbagai daerah sudah muncul pemimpin-pemimpin yang
visioner. Mereka mampu membangun daerahnya lebih baik.
Krisis memang bisa menjadi ancaman, tetapi juga
sekaligus peluang. Kita hidup dalam sebuah dinamika. Ada susah ada senang, ada
krisis ada kemakmuran, ada keterpurukan ada kejayaan, ada pesimisme ada
optimisme. Pada sisi mana kita berada? Semua hal itu tergantung pada kita
bagaimana menyikapinya. Penulis yakin masih ada nada-nada optimisme yang begitu
kuat. Wajah optimisme itu bisa kita temui pada mereka anak-anak negeri yang
berjuang dengan tulus untuk perbaikan bangsa.
Tri Mumpuni telah memberikan optimisme pada kita bahwa hari-hari kelam
yang kita lalui mesti dicerahkan dengan sebuah
pengabdian yang tulus. Bukan hanya dengan basa basi namun dengan kerja
nyata.
Kita bisa memulai apa yang bisa kita lakukan.
Setiap anak muda punya caranya masing-masing bagi masa depan bangsa ini. Ada
yang melakukannya lewat kesenian, ada giat di bidang kebudayaan, ada anak yang
membela bangsa lewat Olimpiade sains, yang lain lewat olahraga, atau ada yang
dengan tulisan. Kita bisa memulai itu semua dari diri sendiri. Tak perlu mencari
kambing hitam. Seperti yang dilakukan 10 tokoh muda itu, mereka berjuang dari
diri mereka sendiri. Di tengah krisis yang terus mendera, kita harus bisa
keluar dari jeratan dampak masa lalu. Kita bangun optimisme dan sama-sama
bekerja membangun bangsa Indonesia.
Menutup tulisan ini, saya mengutip sebuah tulisan
yang terukir di sebuah makam di
Westminster, Inggris (1100 M) berjudul Hasrat Untuk Berubah8.
Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal,
Aku bermimpi ingin mengubah dunia.
Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku,
Kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah.
Maka cita-citaku itu pun ku persempit,
Lalu kuputuskan hanya mengubah negeriku,
Namun tampaknya, hasrat itu pun tiada hasilnya.
Ketika usiaku telah semakin senja,
Dengan semangatku yang masih tersisa,
Kuputuskan untuk mengubah keluargaku,
Orang-orang yang paling dekat denganku.
Celakanya, mereka pun tidak mau diubah
Dan kini,
Sementara aku berbaring saat ajal menjelang,
Tiba-tiba kusadari:
Andaikan yang pertama kali kuubah adalah diriku,
maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan,
mungkin aku bisa mengubah keluargaku
lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka,
bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku;
kemudian siapa tahu, aku bahkan bisa mengubah
dunia.
COMMENTS