Habitat Orangutan Terkepung Sawit Bayi orangutan yang ditemukan warga di sebuah ladang itu diberi nama Ricky Van Basten. Dirawat bai...
Habitat Orangutan
Terkepung Sawit
Bayi orangutan yang ditemukan warga di sebuah ladang itu
diberi nama Ricky Van Basten. Dirawat baik-baik seperti anak sendiri.
Dipakaikan pampers, diberi minum susu, dan dimandikan 2 kali sehari. Bagaimana
ceritanya?
RICKY van Basten memang
hanyalah anak orangutan. Tetapi Husin memperlakukan Ricky seperti bayi manusia.
Persis seperti Husin merawat anak-anaknya saat masih bayi. Dia merasa kasihan
dengan kondisi Ricky. Masih kecil tetapi sudah berpisah dengan ibunya. “Kasihan
melihatnya. Induknya pergi. Jadi saya rawat benar-benar di rumah,” ujar lelaki
berusia 54 tahun yang menolong bayi orangutan tersebut.
Di rumahnya, di Gang Beringin 1,
Kelurahan Batu Layang, Pontianak Tenggara, Husin tengah menggendong Ricky.
Tangan Ricky memeluk erat tubuh Husin. Ketika ada orang lain yang hendak
mengambilnya, cengkraman jari tangannya pada baju Husin semakin keras.
Husin menemukan Ricky dua bulan
lalu di sebuah ladang yang akan digarapnya. Ladang itu terletak di Wajok Hulu,
Kabupaten Pontianak, enam kilometer dari Pontianak. Saat menebas semak belukar,
Husin melihat dua individu orangutan di sebuah pohon. Satu orangutan dewasa dan
satunya masih anak-anak.
Husin dan sejumlah orang yang
saat itu berada di ladang lantas mencoba menangkap dua orangutan tersebut.
Tetapi ketika hendak menangkapnya, si induk melakukan perlawanan. Karena
diserang secara tiba-tiba, seorang warga secara refleks menebaskan parangnya.
Bukannya mengenai si induk, tetapi parang yang digunakan justru mengenai kepala
anak orangutan itu. “Lukanya di kepala. Kami coba menghentikan pendarahan
dengan memberikan kopi. Setelah itu kami beri betadin,” cerita Husin.
Induk si anak itu kemudian lari,
sementara anaknya berhasil ditangkap. Husin membawa anak orangutan itu untuk
dirawat. Anak Husin, Yusuf, lantas memberi nama orangutan itu Ricky Van Basten.
“Supaya enak disebut saja,” ujarnya.
Ketika ditangkap, Ricky tak mau
makan. Husin hanya memberinya air gula. Tetapi setelah itu Ricky selalu diberi
susu. Ricky minum susu dengan botol dot, seperti bayi. “Kami beri minum sehari tiga
kali,” ujar Yusuf, anak Husin. Ricky juga diberi pampers. Supaya mudah
membersihkan jika dia buang air. Pampers biasa diganti sehari sekali.
Sejumlah penelitian memang
menunjukkan bahwa orangutan memiliki kekerabatan yang sangat dekat dengan
manusia, dimana orangutan memiliki tingkat kesamaan DNA sebesar 96.4 persen. Di
Indonesia, ada jenis orangutan yakni orangutan Sumatra (pongo abelii)
dan orangutan Kalimantan (pongo pygmaeus). Orangutan yang ditemukan
Husin berjenis Pongo pymaeus pygmaeus.
Kelakuan Ricky seperti manusia.
Saat Husin dan anak-anaknya menonton televisi, Ricky juga suka menonton. Ricky
memberi respon pada sekelilingnya. Raut wajahnya juga menunjukkan emosi
tertentu tergantung suasana. “Kelakuannya mirip manusia. Wajah, tangan, dan
bentuk tubuhnya juga mirip. Kalau sedang marah, sedang senang, atau sedang
sedih kelihatan di wajahnya. Kalau lapar dia teriak,” kata Husin.
Husin sengaja tidak membuatkan
kandang untuk Ricky. Ricky biasanya tidur di sebuah boneka besar milik anak
Husin. Di boneka itulah Ricky bisa tidur nyenyak. Barangkali boneka itu dirasa
seperti tubuh ibunya. Kalau malam, Ricky
diberi selimut.
Husin membeli berbagai keperluan
untuk Ricky, seperti susu, sampo, dan pampers. “Waktu ketemu dia banyak kutu.
Tetapi sekarang sudah bersih. Saya mandikan dan kasih sampo,” ujarnya. Ricky kerap menjadi tontonan warga sekitar.
Apalagi ketika awal ditemukan.
Prapto, tetangga Husin
mengatakan, seumur hidup baru sekali
dirinya melihat langsung orangutan. Sebelumnya belum pernah ada warga di
sekitar itu yang menangkap orangutan. “Sudah puluhan tahun tak pernah nangkap
orangutan. Kalau kera sih pernah lah,” terang Prapto yang juga ikut
menyelamatkan Ricky.
Lokasi ladang tempat ditemukannya
Ricky kondisinya sudah tidak berhutan lagi. Ada sejumlah pohon tetapi tidak
lebat lagi. Kemungkinan orangutan ini datang dari wilayah lain. Menurut Prapto,
di sekeliling daerah itu sudah ditanami perkebunan kelapa sawit. “Kami tidak
tahu dari mana datangnya. Mungkin dari lokasi yang kini sudah ditebang. Daerah
sana memang sudah ditebang habis,” ujar Prapto.
Kerabat Husen, Vinsensius
Julipin, menyarankan kepada Husin untuk menyerahkan ini pada pihak yang
berwenang. “Kita sadar bahwa orangutan ini binatang yang dilindungi. Harus dilestarikan
keberadaannya. Suatu saat dia harus dilepaskan ke habitat aslinya,” ujarnya.
Husin mengaku akan menyerahkan
Ricky dengan senang hati kepada pihak yang berwenang. “Tidak masalah. Saya akan
serahkan. Semoga nanti dia dirawat baik-baik dan bisa dilepaskan ke rumah
aslinya. Semoga dia bisa bertemu induknya,” ujarnya.
***
“Penemuan orangutan ini menjadi parameter
bahwa hutan tempat dia tinggal telah rusak. Karena habitatnya sudah rusak, maka
dia keluar mencari lokasi lain untuk mencari makan. Kemudian tersesat hingga
masuk ke pemukiman penduduk,” ujarnya.
Menurut Data Walhi, daerah di
sekitar lokasi penemuan dua orangutan itu memang sudah dikelilingi oleh
perkebunan kelapa sawit. “Kita coba lihat daerah penemuan orangutan itu dan
membandingkan dengan peta konsesi perkebunan kelapa sawit. Kesimpulannya,
daerah itu memang sudah banyak untuk sawit,” jelasnya.
Menurut Anton, ada tiga perusahaan
sawit yang di wilayah tersebut, yakni, PT Mitra Andalan Sejahtera (PT MAS), PT Peniti Sungai Purun (PT PSP),
dan PT Bumi Pratama Khatulistiwa (PT BPK).
“Dari data kami diketahui, PT MAS
memiliki luas 13.000 hektar. Lokasinya di Siantan-Segedong. Ijin lokasi sejak
2008 tetapi belum memiki hak guna usaha. Kalau PT PSP luasnya 13.500 hektar.
Lokasinya di Anjungan, Sungai Pinyuh, dan Segedong. Tahun 2009 sudah melakukan
penanaman. Sementara PT BPK memiliki luas 15.000 hektar. Lokasinya di Sungai
Ambawang. PT BPK sudah beroperasi sejak 1995,” rinci Anton.
Menurut Anton, habibat orangutan
memang sudah dikelilingi ketiga perkebunan kelapa sawit tersebut. Karena itu
tidak mengherankan jika ada orangutan yang masuk ke perkampungan. “Intinya
habitat orangutan itu sudah terkepung sawit. Habitat orangutan sudah rusak,”
tambahnya. Kerusakan habitat ini menurut
Anton sangat membahayakan keberadaan orangutan. “Jika habitatnya terus tergusur
dan makin habis, maka orangutan akan semakin punah,” ujarnya.
Persoalan ini kata Anton harus
jadi perhatian serius pemerintah. “Maka kebijakan pemerintah terkait masalah
pemberian ijin perkebunan harus ditinjau ulang. Hutan dan lahan gambut yang
menjadi habitat orangutan jangan dikonversi. Sediakan tempat bagi orangutan itu
untuk hidup,” tutupnya. (her)

COMMENTS