Leopratama Limas terlahir sebagai anak Indigo. Dia memiliki kemampuan supranatural, antaralain bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilih...
Leopratama Limas terlahir
sebagai anak Indigo. Dia memiliki kemampuan supranatural, antaralain bisa
melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat orang kebanyakan. Tetapi, Leo lebih
memilih mengembangkan sisi spiritualitas ketimbang kemampuan supranaturalnya.
Bagaimana ceritanya?
Ketika pertama kali
melihatnya, tidak tampak sama sekali bahwa Leopratama Limas adalah anak Indigo.
Dia bahkan lebih mirip anak kebanyakan. Siang itu, dia mengenakan kacamata khas
anak muda, bercelana jins yang sobek di lututnya, dan asik memencet keyped
telpon selulernya.
Tapi ketika membicarakan soal
kebijaksanaan, tahulah bahwa pemuda 21 tahun ini memiliki pengetahuan yang luas.
Apalagi terkait Indigo. Bicaranya sangat fasih. ”Indigo adalah keaktifan mata
ketiga, yang merupakan manifestasi dari aktivitas otak yang lebih aktif dari
manusia pada umumnya,” jelas mahasiswa Fakultas Ekonomi Untan yang mengaku memiliki
kemampuan Indigo sejak lahir ini.
Apa itu anak Indigo? Menurut
Wikipedia, anak Indigo adalah anak yang diyakini memiliki kemampuan atau sifat
yang spesial, tidak biasa, dan bahkan supranatural. Anak Indigo juga biasa
disebut anak nila.
Leo lebih suka
membicarakan Indigo dalam kerangka ilmu pengetahuan ketimbang ketimbang sisi
supranatural. Karena menurutnya, selama
ini telah terjadi kesalahpahaman dalam memahami anak-anak Indigo. ”Biasanya kan
anak-anak Indigo itu selalu dikaitkan dengan sisi gaibnya. Terutama di televisi.
Padahal kan tidak semuanya soal gaib. Ada sesuatu yang lebih luas dari
soal gaib,” kata Leo.
Menurut Leo, kemampuan
indigo sebenarnya tidak berhubungan kemampuan mistik atau klenik melainkan
merupakan eksplorasi otak. ”Begini, kemampuan otak yang dipakai itu manusia
pada umumnya hanya sekitar 10 persen. Tetapi
pada anak Indigo, kerja otaknya sangat tinggi. Bisa mencapai 70 persen,” tambahnya.
Kinerja otak yang tinggi itu menjadi semacam radar bagi anak-anak Indigo
sehingga mampu menangkap hal-hal yang tidak bisa ditangkap orang lain.
Kemampuan anak-anak indigo itu dibagi menjadi empat,
yakni: sains, seni, supranatural, dan
spritual. ”Sains itu biasanya berkenaan
dengan anak-anak yang memiliki kecerdasan yang signifikan. Misalnya baru 7
tahun sudah mampu mempelajari materi di Universitas. Sementara seni itu, misalnya
ada anak yang baru 7 tahun sudah mampu melukis seperti PabloPicasso. Ini lebih disebut bakat,” jelas Leo.
Leo sendiri mempunyai
kemampuan IQ yang tinggi. Berdasarkan tes psikologi saat SMA diketahui IQ Leo mencapai
skor 139, mendekati jenius. Skor ini jauh di atas rata-rata anak-anak
kebanyakan yang hanya 100. Kinerja otak ini membuat anak-anak indigo pada
umumnya memiliki banyak kemampuan.
Leo juga memiliki
kemampuan seni. Dia menguasai empat belas alat musik etnik. Kebanyakan dari
etnik Tionghoa: seperti kecapi, suling,
alat musik gesek seperti rebab Tionghoa, dan Chinese dulcimer. Juga Saron
Dayak dan angklung
Leo bahkan mampu menemukan
alat musik baru dari kecapi tradisional Tionghoa menjadi kecapi langit. Kecapi
langit ini adalah kecapi kromatik pertama di dunia. “Artinya bisa memainkan
musik barat, timur dan cengkok asli Indonesia, seperti Melayu atau Sunda,”
jelasnya.
Sementara itu kemampuan supranatural
dibagi menjadi 3 yakni: humanis, naturalis dan misalnya melihat mampu aura,
tembus pandang organ manusia dan interdimensional. ”Humanis adalah kemampuan
menyembuhkan. Naturalis, kemampuan pengendalian unsur alam, seperti suhu dan cuaca.
Dan interdimensional berkaitan dengan kemampuan melintasi dimensi ruang dan
waktu. Bisa melihat makhluk pada dimensi lalu, masa lalu dan masa mendatang,”
jelas Leo.
Sedangkan kemampuan spiritual
yang jumlahnya paling sedikit memiliki dua ciri khas: pemahaman intisari hukum
semesta, berkomunikasi dengan alam, pemahaman jati diri manusi, dan kemampuan
memahami karakter tumbuhan hewan dan manusia.
Sewaktu kecil, Leo telah memiliki
kemampuan supranatural, tetapi kemudian ditutup karena kemampuan ini dirasa
sangat mengganggu. ”Saya sering lihat mahluk halus. Mereka terlihat sangat
jelas sekali. Saya sering ketakutan. Di malam hari saya sering histeris,”
ujarnya.
Oleh kakeknya, kemampuan
ini ditutup. Kebetulan kakeknya memiliki kemampuan untuk menutup kemampuan
supranatural seseorang. Kini Leo
mengaku sudah tidak bisa melihat makhluk halus lagi, meski kesadaran akan
mahluk halus itu masih sangat tinggi.
Pengembangkan pada sisi
supranatural menurut Leo lebih cenderung disalahgunakan. ”Terlalu mengedepankan
kemampuan supranatural itu seperti
mengagumi bayang bulan dalam ember. Lupa
dengan bulan di langit karena lebih mengagumi cahaya dalam ember itu. Artinya membuat
kita melupakan tujuan sebenarnya untuk apa anak-anak indigo itu karena lebih
fokus pada sisi gaibnya,” jelasnya.
Kini Leo lebih fokus dalam
pengembangan kemampuan spritualnya dan mengembangkan kebijaksanaan. ”Orang sakti belum tentu bijak. Karena saya takut salah, maka saya lebih memilih mengembangkan
kebijaksaan. Kalau kita sudah mengetahui jati dan tujuan hidup barulah aman
untuk mengembangkan kesaktian guna mempermudah mencapai tujuan untuk membantu
sesama,” ujarnya.
Fanny Zaniado Caniago,
seorang guru yang mempelajari mengenai anak Indigo mengatakan anak-anak indigo
kerap bermasalah dengan sistem pendidikan formal yang kaku dan menyeragamkan
pemikiran. “Padahal, anak-anak Indigo adalah anak-anak yang kreatif. Jadi
semestinya ada sistem mereka menyalurkan kereatifitas sehingga menjadi sesuatu
yang berguna masyarakat,” ujar Fanny.
Karena kerap dianggap aneh
dan berlebihan, anak-anak indigo kerap dikucilkan di sekolah atau di
lingkungannya. Hal ini karena guru dan teman-temannya tidak banyak memahami
mengenai anak-anak ini.
Untuk mengetahui apakah
seorang anak termasuk Indigo atau tidak bisa menggunakan foto aura. Anak Indigo
warna auranya nila. Ungu. “Tetapi bukan pelabelan yang penting. Yang lebih
penting adalah bagaimana kita berguna bagi keluarga dan masyarakat,” tambah Leo.
Kekuatan tertinggi Indigo naturalis
menurut Leo ibarat mampu memasukkan planet ke dalam sebutir pasir. “Tetapi kemampuan
itu tidaklah lebih berharga di mata Yang Kuasa dibanding seorang yang cacat
fisik, tetapi tetap mengasuh anak-anak yatim.
Kemampuan itu akan berguna
hanya ketika memberi manfaat bagi orang lain.” **
Pontianak Post, Minggu 24 Juni 2012
Hal 03
Rubrik Young Community
Kemampuan Anak Indigo Bukan hanya Supranatural
Turut hadir dalam program Young Community di
Hotel Kapuas Palace, Rabu lalu, Leo Pratama Limas. Leo adalah anak yang
memiliki kemampuan Indigo. Leo memiliki banyak kemampuan seperti supranatural,
sains, seni, dan spiritual.
Apa itu anak Indigo? Menurut Wikipedia, anak
Indigo atau anak nila (bahasa Inggris: Indigo Children) adalah istilah yang
digunakan untuk mendeskripsikan anak yang diyakini memiliki kemampuan atau
sifat spesial, tidak bisa, dan bahkan supranatural.
Ini didasarkan dari gagasan jaman baru pada
1970an.
Konsep ini mulai terkenal setelah
diterbitkannya beberapa buku pada akhir 1990an dan dirilisnya beberapa film
satu dasarwarsa kemudian. Interpretasi mengenai Indigo bermacam-macam: dari
yang meyakini bahwa adalah tahapan evolusi manusia selanjutnya (yang mempunyai
kemampuan paranormal seperti telepati) hingga yang menyebut anak Indigo sebagai
orang yang empatik dan kreatif.
Meskipun tidak ada satu bukti penelitian pun
yang membuktikan keberadaan anak indigo atau sifat mereka, fenomena ini menarik
perhatian orangtua yang anaknya didiagnosis mengalami kesulitan belajar atau
yang ingin anaknya spesial.
Leopratama banyak menjelaskan mengenai konsep
anak Indigo. ”Indigo itu anak yang mempunyai karunia dari yang atas. Mereka
bertugas menjadi penggerak di masyarakat. Supaya berevolusi lebih baik.
Anak-anak Indigo harus murni bukan ditempeli makhluk-makhluk lain,” jelasnya.
Leo memiliki banyak prestasi. Di sekolah, Leo
selalu mendapat juara kelas. Minimal juara 3. Leo juga meraih juara 3 pidato Mandarin
dan Pengetahuan Budaya tingkat Internasional di China tahun 2009. “Saya ingin
menunjukkan bahwa kita anak-anak muda dari daerah bisa bersaing di tingkat
internasional asalkan bekerja keras,” jelas.
Saat ini Leo sedang menyelesaikan buku berjudul
Penjagaan Kesehatan Berdasarkan Pengetahuan Selama 12 Ribu Tahun. Juga buku
tentang Psikologi Remaja dan Konsep Pencarian Jati Diri Manusia.
“Menurut saya ilmu yang diberikan adalah sama
baiknya, tergantung kemampuan kita mencerna dan mengaplikasikannya,” ujar
pemuda yang menguasai bahasa Mandarin dan Inggris ini. Kinerja otak yang tinggi
menurut Leo tidak akan berkembang jika tidak disiplin berlatih. Leo sendiri
mengembangkan kemampuan yang dimilikinya dalam berbagai bidang. Leo pernah
menjadi finalis Wirausahawan Muda Mandiri tingkat Nasional 2011 dan Juara 2
Olimpiade Kimia tingkat Kalbar 2008, dan lain-lain.
Executive Assistant manager Hotel Kapuas
Palace, Arifiadi Parayuda mengaku sangat senang bisa berkesempatan mengenal
anak Indigo. “Selama ini saya tidak begitu tahu tentang anak Indigo. Dengan
bertemu mereka saya bisa mendapatkan pengetahuan soal ini,” ujarnya.
Selama ini yang ada di
televisi menurut Arifiadi lebih cenderung membahas anak indigo dari sisi
supranatural. Padahal sisi lain lebih banyak lagi. (her)
COMMENTS