Banyak perempuan yang menjadi kepala keluarga berjuang menafkahi anak-anaknya. Berbagai usaha dijalani, mulai jahit pakaian, kerajinan, ...
Banyak perempuan yang menjadi kepala keluarga berjuang
menafkahi anak-anaknya. Berbagai usaha dijalani, mulai jahit pakaian,
kerajinan, hingga berdagang. Butuh layanan bank yang bisa memberi pinjaman
usaha dengan mudah dan tak berbelit.
Madgalena sudah sepuluh tahun ini berjuang sendirian
menafkahi anak-anaknya tanpa suami. Sepuluh tahun lalu, perempuan 38 tahun
menggugat cerai suaminya. Sebagai perempuan, awalnya dia malu jika harus
meminta cerai. Maklum, menjadi janda bagi sebagian besar orang adalah sebuah
aib. Terutama bagi sanak keluarga. Tapi, Magdalena sudah tak tahan dengan
perlakuan sang suami padanya. Selain suka kasar, suaminya malas bekerja, suka
berjudi, dan kerap mengambil uang hasil kerja Magdalena. Suaminya juga lama
tidak memberi nafkah.
Kala itu Magdalena membuka warung kecil di rumahnya. Tapi
seringkali uangnya dicuri suami untuk berjudi. Ketimbang terus menerus mendapat
perlakuan buruk, akhirnya Magdalena berani menggugat cerai suaminya.
Selama bertahun-tahun kemudian perempuan ini menafkahi
tiga anaknya sendirian. Anak tertuanya sudah duduk di kelas 2 SMA, anak kedua
kelas 1 SMP, dan anak bungsu kelas 3 SD. “Saya banting tulang supaya anak bisa
sekolah,” ujar perempuan yang tinggal di Kampung Kapur, Kubu Raya ini.
Praktis kini Magdalena menjadi kepala keluarga ketiga
anaknya. Berbagai kerjaan dilakoninya. Mulai dari bertani, menjadi buruh cuci,
hingga mengasuh anak orang lain. Semuanya dilakoni supaya anak-anaknya bisa
bersekolah. Dengan kondisinya itu, terkadang banyak kesulitan yang dihadapinya.
Misalnya ketika anaknya perlu membayar SPP, namun dia belum memiliki uang.
Terkadang terpaksa meminjam pada orang lain.
Sebagai perempuan yang harus menafkahi anak-anaknya tanpa
suami, Magdalena sangat membutuhkan bantuan modal untuk usaha. Dia hanya ingin
memiliki usaha kecil, seperti membuka toko kelontong atau usaha jahitan. Usaha
ini tentu butuh modal yang tak sedikit. Masalahnya Magdalena tak punya akses
pada bank. ”Saya dengar untuk meminjam ke bank banyak syaratnya. Harus ada jaminan, surat-surat,” ujarnya. Magdalena urung
meminjam modal ke bank.
Magdalena tak sendiri. Di tempat lain, Suryani juga punya pengalaman yang
serupa. Perempuan ini harus bercerai dengan suaminya dan kini menjadi kepala
rumah tangga bagi dua anaknya. Sehari-hari Suryani membuat kerajinan rumahan.
Berbagai bunga-bunga hias dan manik-manik ia rangkai di rumahnya. Hasil
kerajinan ini dijual ke berbagai tempat.
Waktu memulai usaha ini, Suryani menggunakan modal
pribadi dari hasil tabungannya. Karena modalnya kecil, usahanya tak bisa
berkembang dengan cepat. Mau pinjam ke bank, tetapi Suryani mengaku tak tahu
prosedur peminjaman. Ia juga kuatir jika tak mampu mengembalikan modal. ”Katanya
bunganya tinggi ya,” ujarnya.
Cerita tentang Magdalena dan Suryani adalah satu gambaran
betapa sejumlah kecil perempuan berjuang tanpa suami di sisi mereka. Mereka
mengalami berbagai masalah buruk di keluarganya dan berusaha bangkit. Mereka adalah contoh perempuan yang
semestinya memiliki akses yang baik pada sumber-sumber permodalan.
Koordinator Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) Kholilah
mengatakan, anggota Pekka saat ini mencapai lebih dari 1.000 orang. Yang
tergabung dalam pekka ini adalah perempuan yang diceraikan suaminya, perempuan
yang memiliki suami namun suaminya sakit sehingga tak bisa mencari nafkah,
perempuan suaminya telah meninggal, perempuan yang belum menikah tetapi menjadi
tulang punggung keluarga, dan lain-lain.
Menurut Kholilah ada banyak sekali kisah-kisah tragis
yang dialami anggotanya. Tetapi kini banyak di antara mereka yang sudah mulai
bangkit. Kelompok ini berusaha memberdayakan anggota secara ekonomi.
Hal senada dikemukan Gusnarti. Perempuan ini sehari-hari menjalankan
usaha jahitan di rumahnya di Sungai Raya Dalam, Kubu Raya. Tidak seperti
Magdalena dan Suryani, Gusniarti masih memiliki suami. Tetapi karena beban hidup
yang makin besar, terutama untuk biaya sekolah anak-anaknya, Gusniarti harus
mencari tambahan pendapatan untuk membantu suaminya. ”Saya biasa jahit baju
baik untuk anak-anak, perempuan, atau laki-laki. Lumayan untuk membantu
keuangan keluarga,” ujarnya.
Untuk mendapatkan modal, perempuan ini berusaha meminjam
ke bank. Tetapi karena rumitnya persyaratan, Gusniarti mengaku mengalami kesulitan.
Persyaratan itu antaralain, harus ada agunan, struk belanja, pembukuan yang
tertib, dan juga slip gaji.
Direktur Eksekutif Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita,
Reny Hijazi mengatakan, banyaknya persyaratan memang membuat para perempuan
kesulitan saat meminjam uang di bank. ”Untuk agunan misalnya, semua akses
kekayaan, seperti rumah, tanah dan sepeda motor biasanya atas nama suami.
Sementara untuk struk belanja, karena kebanyakan belanja di toko kecil,
biasanya tidak ada struk belanjanya. Sementara pembukuan juga tidak ada, kecuali
hanya catatan kecil tentang pemasukan dan pengeluaran. Demikian pula dengan
slip gaji. Karena ini usaha kecil tentu dia tak memiliki slip gaji,” jelas
Reny.
Karena kondisi ini, banyak perempuan yang mengambil jalan
pintas dengan meminjam pada para rentenir, meski dengan bunga yang sangat
tinggi. Banyak di antara mereka yang kemudian terlilit utang karena tak mampu
membayar. ”Banyak perempuan yang terlilit utang,” ujarnya.
Beberapa kesulitan lain, misalnya adalah pengisian berkas
(form) yang terlalu banyak. Bagi para perempuan yang berpendidikan rendah,
pengisian form ini menyulitkan. Selain itu mereka juga diharuskan ada pemberi
referensi atau rekomendasi.
Diakui Reny, bantuan permodalan bagi para perempuan
sebenarnya sangat penting. Perempuan itu sebenarnya sangat ulet dalam bekerja.
Apalagi jika mereka tak memiliki suami dan dihadapkan pada situasi harus
memberi nafkah bagi anak-anaknya. Lebih-lebih jika anak-anak mereka sudah
sekolah. Apapun akan dilakukan.
Dengan adanya pembinaan dan juga bantuan modal,
perempuan-perempuan seperti ini sebenarnya bisa diberdayakan. Reny menyarankan
agar bank-bank bisa memberikan layanan khusus bagi perempuan yang menjadi
tulang punggung keluarga dengan pinjaman mikro. ”Pinjaman mikro harus diperbanyak,” ujarnya. Selain
itu proses peminjaman juga harus dipermudah dan diperpendek waktunya. ”Persyaratan
yang terlalu njelimet membuat para perempuan sulit mengakses permodalan.
Buat aja yang lebih simple,” ujarnya.
Untuk agunan juga harus dipermudah. Selama ini kan
perempuan memang tidak punya akses pada agunan, karena kebanyakan atas nama
suami. Sehingga proses peminjaman lebih sering atas nama suami. Masalahnya
bagaimana dengan perempuan-perempuan yang tidak memiliki suami? Mereka yang tak
punya agunan tak bisa meminjam uang.
Bank juga diharapkan bisa memberikan pendampingan bagi
para perempuan yang telah meminjam uang. ”Biasanya bank cuma memberikan
pinjaman tapi tidak melakukan pendampingan. Para peminjam dibiarkan begitu saja
tanpa ada pendamping. Kalau didampingi kan, mereka bisa lebih terarah dalam
menggunakan modal yang telah dipinjamkan,” ujarnya.
Menurut Reny, bank harus proaktif menjemput bola. Mereka bisa
membuat program harian untuk membantu para perempuan yang menjadi tulang
punggung bagi keluarga. Jangan takut bahwa perempuan itu tidak bisa
mengembalikan modal. Jika didampingi, mereka pasti mampu mengembalikan modal
dengan baik. Untuk usaha mikro, bank harus memberikan bunga kecil. Karena itu
sangat terkait dengan kemampuan ibu-ibu itu. **
COMMENTS