Haji Rasyidin sudah berusia 71 tahun. Tapi bicaranya masih sangat lancar. Pria ini menunjukkan satu persatu bus kota miliknya yang henda...
Haji Rasyidin sudah berusia 71 tahun. Tapi bicaranya masih sangat
lancar. Pria ini menunjukkan satu persatu bus kota miliknya yang hendak dijual. Bus
itulah yang telah mengantarkannya naik haji.
HAJI RASYIDIN adalah pemilik
19 buah bus kota yang biasa mangkal di Jalan Abdurahman Saleh atau biasa
disebut BLKI. Tepatnya di samping Masjid Ar Raudah. Seperti namanya, bus ini
memang hanya melayani rute di seputaran Kota Pontianak. Rute yang dilalui
adalah: Abdurahman Saleh (BLKI), Imam Bonjol hingga ke Batu Layang dan kemudian
kembali ke BLKI. Rute lain: BLKI, Ahmad Yani, Kota Baru, dan sejumlah wilayah
lain untuk kemudian kembali lagi ke BLKI. Rute itu tak pernah berubah dari dulu
hingga sekarang.
Usaha bus kota ini sudah
berjalan selama 30 tahun. Riwayat bus kota mencakup riwayat hidup Rasyidin yang
penuh keuletan, yang memulai usaha dari sebuah lapak kaki lima di Pasar Seroja,
Pontianak. Saat itu dia hanyalah seorang perantau dari pulau Sumatra, yang
kemudian menjadi pengusaha transportasi.
Suatu ketika seorang pemilik
bus kota hendak menjual sebuah bus miliknya. Dia menawarkan bus itu pada
Rasyidin. Karena sudah kenal sebelumnya, si pemilik
memberikan harga yang relatif murah. Rasyidin pun mengecek tabungannya.
Ternyata cukup untuk membeli bus itu. Sejak itulah usaha bus kotanya dimulai.
Usahanya terus berkembang. Dari satu bus, Rasyidin kemudian mampu membeli
bus lain. Hingga kemudian armada bus mencapai 19 buah.
Selama puluhan tahun, bus kota telah berjasa bagi
banyak orang. Para pelajar yang hendak ke
sekolah, hingga mereka lulus sekolah. Para mahasiswa yang hendak ke kampus hingga
mereka menjadi sarjana. Ibu-ibu yang hendak ke pasar. Para buruh yang hendak
pergi ke tempat kerja. Nona-nona yang hendak melamar kerja, atau seorang lelaki
yang hendak ke rumah pacarnya. Dengan tarif yang murah meriah bus kota menjadi
andalah warga kota Pontianak untuk bepergian.
Tapi itu beberapa tahun
lalu, ketika masih banyak orang yang mengandalkan bus ini untuk bepergian ke
berbagai tempat di Pontianak. Sebelum jumlah kepemilikan sepeda motor meningkat
karena begitu mudahnya orang mengkredit sepeda motor.
Saat itu, angkutan umum
memang sangat diperlukan. Mencari penumpang tentu saja sangatlah muda. Di
pinggir-pinggir jalan ada saja penumpang yang melambaikan tangan tanda hendak
menumpang. Tua, muda, anak-anak menggunakan jasa bus ini.
Saat itu pemilik angkutan
umum dianggap sebagai orang kaya. Betapa
tidak, bus atau oplet mahal harganya. Harga satu bus plus ijin trayeknya bisa
mencapai Rp. 200 juta. Bayangkan bila memiliki 19 bus. “Punya satu bus saja itu
sudah bisa mencukupi kebutuhan keluarga,” ujar pria yang memiliki sembilan anak
ini.
Menurut Rasyidin masa kejayaan bus kota adalah
adalah pada rentang waktu tahun 80an hingga tahun 2000an. Saat itu hidupnya
boleh dibilang enak. Banyak rejeki. Bisa naik haji dan umroh. Punya rumah bagus
dan bisa membuka usaha lain.
Akan tetapi bus kota yang telah berjasa itu
kini telah menjadi sangat ringkih untuk bisa bersaing dengan sepeda motor
keluaran terbaru. Para penumpangnya yang dulu sedia menunggu bus ini di
pinggir-pinggir jalan telah memiliki sepeda motor masing-masing. Tentu saja
penumpang tidak disalahkan. Hak setiap orang untuk memilih kendaraan apa yang ingin mereka tumpangi.
Sepuluh tahun lalu masih sangat
mudah melihat buskota yang berlalu lalang setiap sepuluh menit. Sekarang jelas
sangat berbeda. Sebanyak 19 buah bus milik Rasyidin kini lebih banyak nangkring
di ”markasnya”. Dalam sehari paling hanya 2 bus saja yang beroperasi.
Puluhan supir sudah tidak
lagi narik. Para kernet tentu juga begitu. Padahal sebelumnya sedikitnya
setiap bus punya 3 supir dan 3 kernet yang menggunakan secara bergantian. Setiap
hari bus kota menjadi sumber pemasukan bagi puluhan supirnya. Tapi kini
kebanyakan supirnya sudah berhenti. Satu diantara supir yang masih bertahan
adalah Haji Marnoto.
Marnoto adalah supir
kepercayaan Rasyidin. Menurut Marnoto, jumlah penumpang kini jauh berkurang. ”Sekali
mutar paling banyak hanya 10 penumpang. Kebanyakan penumpang adalah anak
sekolah atau ibu-ibu,” ceritanya Marnoto.
Dengan jumlah penumpang yang
semakin sedikit jumlah pemasukan juga semakin kurang. Terkadang pendapatan
harian tak mencukupi untuk bayar setoran. ”Pulang ke rumah sering tak bawa
uang. Bahkan sering minus,” ujarnya.
Padahal uang setoran sudah
beberapa kali diturunkan. Tapi tetap saja supir kerap pulang tanpa mampu bayar
uang setoran. “Pulang ke rumah bisa-bisa istri minta cerai,” ujar Rasyidin
mengulang lelucon yang biasa diucapkan para sopir.
Sebelumnya Rasyidin tak pernah
membayangkan situasi yang semakin buruk itu. ”Dulu kan saya tak memperkirakan
bahwa orang bisa dengan mudah mendapatkan motor seperti sekarang,” ujarnya. Tapi
begitulah sebuah perputaran hidup. Rasyidin pun sudah menerimanya. ”Kadang ada
saatnya naik, kadang juga ada saatnya turun.”
Tak banyak yang bisa
dilakukannya sekarang kecuali menyerah pada keadaan. Sejak sebulan lalu
Rasyidin mulai melego 19 busnya. ”Terpaksa saya jual saja. Kalau tidak saya
akan terus merugi. Biaya perawatannya besar, sementara pendapatan dari situ
tidak ada,” ujarnya. Bus itu sendiri sampai sekarang belum laku.
Sebentar lagi Rasyidin akan
berpisah dari bus-bus yang telah menjadi
sumber pendapatannya itu. Anak Rasyidin, Marthias berharap mobil milik ayahnya
itu bisa dibeli oleh pemerintah daerah. Fungsinya bisa diubah sebagai mobil
pariwisata kota atau sebagai mobil angkutan bagi anak sekolah. “Meski sudah
tua, kondisi mobil ini masih bagus. Kalau mau dipakai paling butuh reparasi
sedikit,” kata Marthias.
Haji Rasyidin berharap
bus-busnya itu masih bisa bermanfaat bagi banyak orang. “Saya sedih melepasnya.
Tapi bagaimana lagi. Semoga ada yang mau membelinya,” harap Rasyidin. **

COMMENTS