Warga Nanga Hovat di DAS Mendalam, Kapuas Hulu sangat tergantung pada kemurahan alam. Mereka hidup dari berburu di hutan dan menangkap ...
Warga Nanga Hovat di DAS Mendalam, Kapuas Hulu sangat tergantung
pada kemurahan alam. Mereka hidup dari berburu di hutan dan menangkap ikan di
sungai. Tapi luasan hutan yang terus menipis mengancam kehidupan
mereka.
Di dusun ini tak akan sulit mendengar lolongan anjing bersahut-sahutan. Suara
lolongan yang jika di malam hari bisa membuat badan bergidik. Lolongan yang
keras dan galak. Juga sering pula terdengar lolongan panjang, yang katanya
adalah lolongan saat anjing melihat hantu.
Jumlah anjing di dusun ini sangatlah banyak. Mungkin melebihi jumlah
penduduk di sana. sebab satu rumah terkadang bisa memiliki hingga 10 ekor anjing.
Dusun Nanga Hovat adalah dusun paling akhir di Daerah Aliran Sungai
Mendalam Kapuas Hulu. Perjalanan menuju daerah ini bukanlah perjalanan yang
muda. Juga tidak murah. Tidak mudah karena tidak ada akses jalan kecuali lewat
jalur air. Tidak murah, karena harus mengeluarkan banyak uang untuk bahan bakar
longboat yang boros itu.
Perjalanan menuju ke dusun ini cukup panjang. Dari Pontianak menuju ibu
kota kabupaten Kapuas Hulu, Putussibau bisa menggunakan jalur darat atau udara.
Jika menggunakan jalur darat lama perjalanan bisa mencapai 16 jam. Tentu saja
itu sudah termasuk beberapa kali istirahat di perjalanan.
Ada banyak bus, taksi, atau mobil carteran dengan tujuan Putussibau. Bebas
memilih tergantung kondisi keuangan. Bagi yang tidak tahan berlama-lama di
perjalanan bisa menggukan pesawat komersil yang memiliki rute
Pontianak-Putussibau. Waktu perjalanan bisa dipersingkat hingga satu jam saja.
Sampai di Kapuas Hulu, perjalanan masih harus dilanjutkan dengan menggunakan
perahu motor atau biasa disebut longboat. Longboat adalah perahu dari kayu berbentuk
memanjang yang menggunakan mesin motor tempel. Biasanya perahu motor ini “mangkal”
di dermaga Putussibau.
Tok Min, sang motoris, memacu perahu motor dengan kencang. Perahu ini
menggunakan mesin berkekuatan 40 PK. Perjalanan yang melalui DAS Mendalam ini ditempuh
dalam waktu sekitar 3 jam. Ada beberapa
desa yang dilalui seperti Nanga Sambus, Tanjung Karang, Datah Dian dan beberapa
desa lain.
Sepanjang perjalanan terlihat banyak lanting yang ada di pinggiran sungai.
Lanting-lanting ini digunakan sebagai MCK atau mandi cuci kakus. Ini memberi
arti bahwa sungai menjadi bagian penting bagi kehidupan warga di sana.
Air sungai berwarna coklat. Menurut Hafis Alqadrie dari WWF Indonesia yang
merupakan pemimpin rombongan, keruhnya warna sungai karena banyaknya pinggiran
sungai yang longsor. Dan memang benar selama perjalanan terlihat bekas-bekas longsoran
di sejumlah titik. “Longsor ini jika terjadi terus menerus akan menambah
kekeruhan air sungai,” ujar Hafis yang berkantor di WWF Putussibau.
Setelah menempuh
perjalanan hingga 3 jam akhirnya perahu motor sampai di Dusun Nanga Hovat. Ini
merupakan dusun terakhir sebelum benar-benar masuk ke hutan belantara di
kawasan Taman Nasional Betung Kerihun.
Dusun Nanga Hovat
dihuni oleh Suku Bukat. Dusun ini dihuni 44 kepala keluarga. Kehidupan warga di
sana sangat tergantung pada kemurahan alam. Mereka berburu, mencari ikan dan mengumpulkan
berbagai hal dari hutan.
Sebagian besar
lelaki dewasa di dusun ini adalah pemburu yang hebat. Setiap rumah memiliki
banyak anjing pemburu. Biasanya hingga belasan anjing. Dusun ini dikelilingi
hutan yang lebat. Itulah lokasi berburu yang paling strategis. Binatang buruan
utama mereka adalah babi hutan. Tetapi mereka juga kerap membawa pulang
binatang lain, seperti rusa.
Meski demikian,
menurut Narok, tokoh masyarakat setempat,
luasan hutan di wilayah itu sudah jauh berkurang dibanding sepuluh tahun
yang lalu. Hutan inilah yang menjadi tumpuan bagi mereka. Karena di sana-lah
mereka mendapatkan hewan buruan, seperti babi hutan, rusa, dll.
Selama ini
warga telah berusaha menjaga hutan. Mereka sadar bahwa hutan adalah bagian
terpenting hidup mereka. Tapi, ancaman terus datang dari luar. Misalnya
penebangan liar.
Di masa mendatang
hutan tampaknya tak akan bertambah luas. Alam tentu saja tidak akan semurah
beberapa tahun sebelumnya. Pak Narok, tokoh masyarakat setempat, misalnya,
membandingkan sepuluh tahun lalu dengan saat ini. ”Dulu kami bisa dengan mudah
mendapatkan babi hutan. Tapi sekarang sudah jauh berkurang,” ujarnya.
Dari apa yang
dibicarakannya, terbersit sebuah kekawatiran akan situasi di masa depan yang
mungkin akan jauh lebih sulit. ”Hutan bukan bertambah luas, tetapi semakin
berkurang. Kami tidak tahu akan berburu dimana kalau hutan makin habis,”
ujarnya.
Selain berburu,
warga desa juga bekerja mencari ikan sungai. Di bagian hulu sungai, airnya
masih tergolong bagus sehingga masih dengan mudah mendapatkan ikan. Warga
menangkap ikan dengan cara tradisional. Berupa tombak, jala, atau pancing.
Mereka melarang penggunaan racun atau penyetruman. Meski jumlah tangkapan ikan masih cukup
banyak, menurut Narok, ini sudah jauh menurun dibanding beberapa tahun lalu. “Mungkin
karena airnya sudah mulai agak keruh ya,” ujar Narok. **
COMMENTS