Mahasisiwa merupakan pelajar yang identik dengan paradigma kritis. Begitu juga terhadap permasalahan yang menimpa bangsa mereka, sehingga d...
Kirana status mahasiswa sebagaii agent of change memnag
pantas di sandang mereka. Arbi sanit pernah menulis ada lima faktor penyenbab
mahasiswa peka dengan permasalahan
kemasyarakatan sehingga mendorong mereka untuk melakukan perubahan.
·
Pertama
Sebagai kelompok masyarakat yang mempunyai
pandangan luas untuk dapat begerak di antara semua lapiasan masyarakat
·
Kedua
Sebagai kelompok masyarakat yang paling
lama menjalani pendidikan, sehingga mahasisiwa mengalami sosialisasi politik
terpanjang di antara angkatan muda.
·
Ketiga
Kehidupan kampus yang membentuk gaya hidup
yang unik melalui alkuturasi sosial
budayayang tinggi di antara mereka
·
Keempat
Mahasisiwa sebagai golongan yang akan
memasuki lapisan atas susunan kekuasaan,
stuktur ekonomi , akan memiliki kelelbihan tertentu dalam masyarakat
·
Kelima
Seringnya mahasiswa terlibat dalam hal pemikiran, diskusi, dan
penelitian berbagai masalah di masyarakat.
Namun, di era reformasi ini apakah masih pantas menyadang status sebagai agen
perubahan? Zaman terus berubah,
perubahan adalah suatu keniscayaan. Begitu juga
dengan mahasiswa, akibat biaya pendidikan yang semakin mahal membuat input
manusia terus berubah. Apalagi zaman sekarang hibura memanjakan kehidupan
manusia. Tidak terkecuali
mahasiswa.mahasiswa sekarang bukan merumuskan konsep pengembangan akademik (
penelitian) serta pengabdian ke masyarakat. Mahasiswa yang seharusnya berfungsi
sebagai agen perubahan engan paradigma kritis tranformatif, kini sudah bergeser
pada agen perubahan yang pragmatis dan hegomonis. Mereka lebih senang dan enjoy
dengan mencari aktifitas yang bernuasakan entertaiment, seperti pertunjukan
musik, nonton sinetron dan sejenisnya.
Ketika mereka asik berjingkrak-jingkrak menikmati alunan musik, mereka lupa
masrakat di luar kampus membutuhkan peranan mereka untuk bersama-sama melakukan
perubahan iklim yang lebih baik. Sementara aktfitas yang bersifat kritis
terhadap permasalahan soial, orasi ilmiah , kajain, seminar dan aktifitas
lainya selalu mendapat respon yang dingin dan negatif.
Perguruan tinggi saat ini sudah berubah fungsinya , dari tempat terkumpulnya calon intelektual
muda dengan segudang gagasan kritis tetntang perubahn dan pembedayaan
masyrakat, berubah menjadi temapt
berkumpulnya komunita dengan kultur
politis kental dan orientasi ekonomi yang kapitalistik. Paolo fiera pernah
mengisisyaratkan bahwa paradigma pendidikan dengan kultur demikian sangat sulit
untuk melahirkan kesadarn “kritis” di kalangan mahasiswa. Ketika kultur politis
menjadi di kalangan mahasiswa,
kemungkinan besar kesadaran yang di bangun tak lebih dari kesadaran “naif”.
Kesadaran yang membuat mahasiswa hanya mampu melemparkan keluhan dan celaan
tanpa mampu memberikan penjelasan dan tidak pula memberikan alternatif
penyelsaian terhadapn penyimpangan yayng terjaid di masyarakat. Selain itu,
bila mahasiswa teah terjangkit pola kesadarn “magis”. Mereka hanya bisa
menerima nasib apapun yang menimpa mereka, mahasiwa pola kesadaran seperti ini
hana bisa diam melihat penindasan yang terjadi di sekeliling mereka. Munkin
kesadaran kriti terbangun di tengah kultur demikian?
Ada yang lebih aneh
namun ini nyata, bahwa banyak mahasiswa
yang tidak sadar betapa beratnya sebagai
agen pengontrol permasalahn sosial, mereka tidak mengerti bagaimana cara
berfikir ang seharusna di miliki oleh seorang mahasiswa, sebuah status ang
menjadi kebangaan tersendiri bagi meraka ketika bergaul dengan mahasiwa yang
tidak aktif di oraganisasi kemahasiswaan.
Di satu sisi, aktivitas mahasiwa seperti ini tidak
pernah sadar bahwa permasalahan yang ada di masyarakat akibat ketidakadilan
membutuhkan tenaga dan pemikiran mereka.
Munkin aktivitas mahasiswa yang berideologi Homo ordebaruicus ini bisa
melakukan perubahan terhadap permasalahan sosial di masyarakat, sementara
mereka secara individu belum siap mengubah pola pikir mereka yang striptise,
konsumtif, hedois dan pragmatis. Mereka tidak mau memutar oltak lebih keras
untuk memikirkan metode-metode baru, ataupun tantangan – tantangan seperti apa
yang akan muncul di kemudian kelak....
COMMENTS