Apakah Singapura menjual keindahan alam sebagai andalan pariwisatanya? Jawabnya tentu bukan. Yang mereka ”jual” adalah kebersihan, keaman...
Salah besar jika
pariwisata selalu dikaitkan dengan keindahan alam. Buktinya, Singapura bisa
menjadi tujuan wisata dunia, meski mereka tak banyak memiliki obyek wisata
berupa keindahan alam. Negara ini tak punya pantai yang berpasir indah seperti
di Singkawang, juga tak punya danau besar seperti Danau Sentarum, laut yang
menawan seperti di Raja Ampat, atau pegunungan tinggi seperti di Pulau Jawa. Singapura
bahkan perlu membeli pasir dari Indonesia untuk membuat sebuah pantai yang
indah dan membangun pulau bernama Sentosa Island.
Lee Wong, sopir
taksi yang membawa saya berkeliling ke sejumlah tempat dengan setengah bercanda
mengatakan bahwa pantai di Singapura tidaklah indah. ”Terlalu banyak kapal di
sekitar pantai,” ujar Wong. Maksud Wong adalah di sepanjang pantai banyak kapal
yang bongkar muat di pelabuhan.
Memang benar, di
sepanjang jalan dari bandara Changi menuju kota misalnya, akan dengan mudah
terlihat pelabuhan-pelabuhan peti kemas. Di sana banyak sekali kapal yang melakukan
bongkar muat. ”Indonesia punya banyak pantai. Saya pernah ke Bali. Pantainya indah. Di sini (Singapura)
pantai tak indah. Banyak kapal,” ujar Wong yang selama perjalanan bercerita
banyak hal tentang Singapura.
Meski tak
memiliki obyek wisata alam yang indah, negara yang tak lebih luas dari Jawa
Barat ini menjadi tujuan wisata bagi para pelancong dari berbagai negara,
seperti Indonesia, Malaysia, China, India, Australia, bahkan juga Eropa. Di jalan-jalan dengan mudah kita lihat
bule-bule berkeliling kota sambil menenteng peta. Kunjungan terbanyak adalah dari Indonesia. Jumlahnya diperkirakan mencapai lebih dari
2,5 juta orang dalam setahun.
Pertanyaannya
mengapa negara ini begitu diminati para wisatawan? Faktor kebersihan, keamanan,
kenyaman, dan penataan kota adalah jawabannya. Jika berbicara tentang daya
penarik kota, sebenarnya Indonesia tak kalah jauh. Jakarta misalnya tentu punya
gedung-gedung tinggi yang jumlahnya lebih banyak dari Singapura. Apalagi
mall-mall dan tempat belanja.”Yang berbeda adalah penataannya,” kata Nini Edi, salah
seorang wisatawan asal Indonesia.
Pemerintah
Singapura memang berhasil menata kota-kota di negara itu sehingga terlihat
rapi. Kebersihan juga sangat dijaga. Praktis tak ada sampah yang berserakan di
jalan, apalagi menumpuk di pinggir-pinggir jalan. Karena bersih, tentu tidak
ada bau menyengat yang menusuk hidung. Jalan-jalan dan bangunan-bangunan jadi terlihat
sedap dipandang.
Pemerintah Singapura memang sangat tegas
soal kebersihan ini. Tak tanggung-tanggung, jika ada yang ketahuan membuang
sampah di sembarang tempat, bisa didenda beberapa ratus dolar Singapura. Ada
banyak kamera yang dipasang di berbagai tempat untuk memantau orang agar tidak
membuang sampah sembarangan. Sudah banyak orang yang dituntut gara-gara
membuang sampah sembarangan.
Ada kejadian lucu saat Pontianak Post
bersama sejumlah wartawan dari beberapa negara ASEAN berkunjung ke Singapura. Selesai
acara, Sam Rith, wartawan dari Phnom Penh Post, keluar dari gedung pertemuan
dan hendak menuju hotel dengan berjalan kaki. Dia membawa sebuah pisang dan kemudian memakannya.
Tapi selesai makan, Sam Rith kebingungan karena di jalan yang dilalui itu tak
ada tong sampah. Dia lantas memegang saja kulit pisang itu dan tak berani
membuangnya. ”Saya takut didenda,” ujarnya.
Rasa takut
didenda mengalahkan rasa malu membawa kulit pisang ke mana-mana. Jika saat itu
dia berada di negaranya, mungkin Sam Rith sudah langsung membuang kulit pisang
itu di tepi jalan. Untung tidak jauh dari halte bus,
ada sebuah tong sampah. Jika tidak, Sam Rith akan membawa kulit pisang itu hingga
sampai ke hotel.
Selain kebersihan, hal lain yang menjadi
daya tarik adalah soal keamanannya. Nini Edi, pelancong asal Pontianak mengakui
hal ini. “Saya itu kalau di
Jakarta tidak berani keluar malam-malam. Mau berjalan kaki tidak aman, mau naik
taksi juga waswas. Tapi di Singapura, saya tidak takut walau jalan malam-malam.
Sangat aman,” ujar Nini. Semua
yang ada di Singapura menurut Nini menawarkan kenyamanan.
Selama lima hari
di Singapura Nini berkeliling ke berbagai tempat, seperti Orchard Road,
Singapore Zoo, Bird Park, Science Park, dan lain-lain. Menurut pendapat Nini,
di Indonesia sebenarnya lebih banyak tempat menarik untuk dikunjungi. “Kalau kita pergi ke Jakarta, misalnya,
banyak sekali pilihan yang bisa dikunjungi. Kalau bosan di Jakarta, bisa ke Bogor,
Bandung, Jogja, atau Bali,” ujarnya. Tetapi
yang membuatnya tidak suka ke Jakarta adalah soal kemacetannya. ”Kalau di Jakarta itu kan mau kemana-mana susah.
Waktu habis di jalan,” ujarnya.
Di Singapura,
semua tempat terhubung oleh transportasi massal. Ada
bus atau kereta yang siap melayani para wisatawan. Setiap halte menyediakan
rute, sehingga orang yang baru datang sekalipun bisa dengan mudah mencari
tempat yang dituju. Bus-bus wisata berlantai dua juga siap mengantar para
wisatawan berkeliling kota. “Transportasi
publik di sini sangat maju sekali. Saya senang menggunakannya,” ujar Ngo Thi
Thu Phuong dari Vietnam. Selama beberapa hari di Singapura, Phuong berkeliling
kota dengan menggunakan transportasi publik ini.
Dari banyaknya
kunjungan wisatawan inilah Singapura menanggung banyak keuntungan. Semakin
banyak orang yang datang dan membelanjakan uangnya di negara itu, semakin
banyak pendapatan yang mereka peroleh. Dan dengan itu mereka menyejahterakan
rakyatnya.
Bagaimana dengan
di Indonesia? Jika digarap, sebenarnya Indonesia jauh lebih berpotensi
ketimbang Singapura. Indonesia punya banyak obyek wisata alam yang sangat
indah. Juga memiliki banyak bangunan bersejarah. Dan satu lagi, Indonesia
memiliki banyak sekali seni budaya asli. Singapura adalah negara kecil dimana penduduknya kebanyakan adalah para
pendatang. Dibanding Indonesia, seni budaya di singapura tidak ada apa-apanya. Mereka
hanya menata kota sedemikian rupa sehingga elok dipandang.
“Saya rasa
Pontianak atau daerah-daerah lain di Indonesia kalau ditata dengan baik agar
sangat menarik bagi wisatawan luar. Kebersihan, keamanan, dan kenyamanan harus
dijaga. Juga tranportasi publiknya,” ujar Nini Edi. Kita tunggu saja dalam
beberapa tahun mendatang.**
.jpg)
COMMENTS