Wisma Sirih adalah tempat rehabilitasi bagi para remaja yang mengalami kecanduan narkoba. Saat ini ada 10 remaja yang sedang berjuang mel...
Wisma Sirih adalah tempat rehabilitasi bagi para
remaja yang mengalami kecanduan narkoba. Saat ini ada 10 remaja yang sedang
berjuang melepaskan diri ketergantungan narkoba di sana. Beberapa di antara mereka
bersedia bertutur mengenai kehidupan mereka selama menjadi pecandu narkoba.
Lima tahun yang lalu, Marhadi (31) masih menjadi
penghuni Wisma Sirih Pontianak. Selama bertahun-tahun pria yang biasa dipanggil
Adi adalah seorang pecandu narkoba kelas berat. Berbagai
obat-obatan pernah dia coba. Tapi
kini, lima tahun kemudian, Andi justru menjadi orang yang getol membantu para
pecandu narkoba agar terlepas dari narkoba.
“Pada awalnya, saya hanya menggunakan alkohol, ya biasalah kumpul-kumpul
sama teman. Ketika itu ada teman yang mengenalkan saya
dengan narkotika, jenisnya putaw. Waktu itu saya tolak. Tetapi dia bilang
kalau tak pakai berarti tidak jantan. Dibilang begitu saya jadi mau (pakai),”
ujarnya.
Agar bisa mendapatkan narkoba, segala cara
dilakukan. Termasuk membohongi orangtuanya. Bahkan, Andi mengaku kerap menjual
barang-barang di rumahnya. “Kalau dikasih uang orangtua, saya pakai untuk beli
obat. Mereka awalnya tidak curiga. Tetapi setelah lama-lama, rupanya orangtua
tahu. Saya tidak lagi dikasih uang. Takut dipakai untuk beli obat lagi,” cerita
Adi.
Karena tidak punya uang, Adi mulai sering mengambil
barang-barang di rumahnya dan dijual untuk membeli narkoba. “Saya bahkan pernah
jadi maling. Supaya bisa punya uang untuk beli obat,” ujarnya.
Kini Adi sudah tidak lagi menggunakan narkoba. Itu
setelah dirinya mengikuti program rehabilitasi di Wisma Sirih. Bahkan kemudian Adi
dipercaya menjadi konselor di Wisma Sirih. “Dari kondisi paling buruk, saya
berusaha untuk bangkit. Sedikit demi sedikit saya coba menata hidup. Dan saya
bersyukur bisa pulih,” ujar Adi yang setelah lepas dari narkoba berani
berumahtangga. Kini dia sudah punya 1 orang anak.
Wisma Sirih terletak di Jalan Alianyang No 1, Pontianak.
Ini adalah satu-satunya pusat rehabilitasi narkoba di Pontianak. Bangunan 2
lantai ini dihuni 1o orang yang sedang menjalani rehabilitasi. Semuanya laki-laki. Mereka
tinggal di sana dan menjalani berbagai program yang ketat agar sembuh dari
kecanduan narkoba.
Jony, bukan nama sebenarnya, adalah satu di
antara para pecandu narkoba yang menjalani rehabilitasi di Wisma Sirih
Pontianak. Jika ingat lagu berjudul Frustasi yang dinyanyikan Iwan Fals yang berbunyi:
mata cekung, badan persis capung, tingkah sedikit bingung, dan pikiran mirip
orang linglung. Seperti itulah kondisi Jony setelah menjadi pecandu selama 12
tahun.
Jony bercerita, pada awalnya hanya kenal
minum-minuman keras. “Awalnya sih kenal yang kecil-kecil dulu, macam
minum-minum, ganja, dan lain-lain. Saat masuk SMA mulai kenal sabu dan inex.
Itu dari kawan, karena mayoritas tempat tinggal saya pakai itu,” ceritanya.
Kini Jony sedang berusaha menghilangkan
ketergantungan terhadap narkoba. Ini pekerjaan berat bagi pemuda 25 tahun ini.
Tapi ia ingin hidup normal. “Sudah 12 tahun saya kecanduan. Badan saya sudah
tidak mampu, sudah menolak. Sakit badan. Sekarang saya cuma ingin sembuh,”
ceritanya.
Jony kini sedang menjalani terapi di Wisma Sirih.
Jika sudah sembuh Jony ingin menikah dan bekerja layaknya orang pada umumnya. “Saya
berusaha benar untuk sembuhlah. Tak mungkinlah saya hidup seperti ini terus.
Setidaknya saya khan punya hari depan, punya masa depan. Saya ingin menikah.
Pengin hidup normal. Ingin seperti kertas kosong. Tinggal mengisinya seperti
apa,” katanya.
Tidak hanya Jony yang pernah terjerat narkoba.
Jordan, 22 Tahun, juga bukan nama sebenarnya, juga mengalami hal serupa. Dia
terjerat narkoba karena perhatian orang tua yang kurang. Orangtuanya terlalu
sibuk dengan pekerjaan sehingga Jordan tak mendapatkan kebahagiaan di rumah.
Akhirnya ia lari pada narkoba.
“Bisa dibilang kasih sayang ini hanya dengan uang. Tidak ada perhatian sama sekali dari orangtua. Akhirnya saya pakai barang
ini,” ujar Jordan yang juga berharap bisa sembuh.
Sebagai konselor banyak belajar bagaimana program
rehabilitasi bagi para pecandu narkoba. Adi menjelaskan mengenai berbagai
program yang dijalankan di Wisma Sirih. Menurut
Adi, selama menjalani pemulihan, para penghuni Wisma Sirih dilatih untuk
mengikuti berbagai kegiatan ekonomi yang bersifat produktif. Tujuannya agar
mereka mempunyai kepercayaan diri dan bisa hidup mandiri setelah keluar dari
rehabilitasi.
“Misalnya usaha laundry. Jadi mereka bertanggung
jawab terhadap masalah cucian pakaian. Diharapkan setelah menjalani rehab,
nilai-nilai ini bisa mereka terapkan di luar,” ujar Andi.
Siang itu, sejumlah penghuni Wisma Sirih sedang
beraktivitas. Ada yang sedang memasak
dan ada pula yang sedang mencuci piring. Di sebuah ruangan, Yonas, bukan
nama sebenarnya, sedang sibuk mempersiapkan makan siang. Yonas adalah salah
satu penghuni di wisma sirih. Sambil mengemaskan makanan Yonas mengatakan, “Di
sinilah bang, kita bisa merasakan hidup yang teratur. Hidup tanpa orangtua.
Hidup yang betul-betul dewasa. Mandiri, tanpa orangtua. Masak-masak seorang.
Mencuci baju seorang. Jadi tidak merepotkan orang lain.”
Para penghuni Wisma Sirih diberi tugas harian. Mulai dari bersih-bersih ruangan hingga pakaian. Jika
tak mengerjakan akan ada sanksi. “Jadi kita
masuk sini kan sudah ada aturan. Kita tak boleh melanggar aturan. Setiap
melanggar aturan akan mendapatkan sanksi yang setimpal. Tapi disini tak boleh
ada kekerasan.”
Menggunakan narkoba selalu menimbulkan sisi
negatif. Tak ada keuntungan apapun yang bisa didapat. Namun banyak pemuda yang
terjerat narkoba. Andi berpesan kepada para pemakai narkoba agar
berhenti. Juga kepada yang lain, agar tak berani coba-coba.
“Apalagi kita masih jadi
pecandu itu hanya ada duapilihan. Kematian ataupun
penjara. Itu sudah pasti. Tetapi bagi teman-teman yang belum menggunakan
narkoba, ya jangan mencoba untuk menggunakan narkoba atau zat adiktif lainnya. Itu
akan sangat merusak, baik
kesehatan, pikiran maupun merusak keharmonisan keluarga,” ujar Adi. (Her)
COMMENTS