Para transmigran di Desa Sebunga, Kecamatan Sajingan Besar, Sambas harus tinggal di kawasan tak subur di daerah perbukitan di sekitar perb...
Para transmigran di Desa Sebunga, Kecamatan Sajingan
Besar, Sambas harus tinggal di kawasan tak subur di daerah perbukitan di sekitar
perbatasan. Malangnya, mereka belum memperoleh lahan lahan meski jatah hidup
tersisa dua bulan. Banyak diantara mereka yang memilih bekerja di perkebunan
kelapa sawit.
BAMBANG Risyanto, 45 tahun, tak menyangka akan menetap di
kawasan yang berbukit dan tidak subur itu. Sebelum berangkat dia membayangkan
akan tinggal di kawasan subur untuk menanam berbagai macam tanaman pertanian.
“Saat berangkat saya bawa benih jagung, timun, terung. Sudah terbayang akan
memanen sayur-sayuran di lokasi baru. Tapi begitu saya tanam, susah sekali
tumbuhnya. Ada beberapa yang hidup tapi kemudian menguning dan mati,” ujar
transmigran asal Sumedang, Jawa Barat itu, saat ditemui di rumahnya pekan lalu.
Menurut Bambang, tanah di lokasi itu memang kurang subur.
Tanahnya juga kering. Butuh perawatan ekstra agar tanaman bisa tumbuh. “Saya
harus olah tanahnya beberapa kali baru bisa ditanami. Kalau tidak, tanaman
sulit tumbuh,” ujar Bambang yang tetap tampak bersemangat meski tinggal di
kawasan yang serba sulit itu.
Komplek transmigrasi ini terdiri atas 200 rumah. Sebanyak
100 rumah sudah terisi transmigran asal Pulau Jawa, sementara 60 rumah terisi
transmigran lokal. Sisanya, 40 rumah masih kosong.
Tidak mudah untuk sampai di komplek transmigrasi di
wilayah perbatasan ini. Satu-satunya jalan untuk sampai ke lokasi transmigrasi
ini adalah melalui jalan di perkebunan sawit. Kondisi jalan masih berupa tanah
dan batu.
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam dari
perbatasan Aruk, sampailah kami di lokasi transmigrasi ini. Dari kejauhan
rumah-rumah warga sudah terlihat. Rumah-rumah itu memang dibangun di atas
perbukitan sehingga mudah terlihat dari kejauhan. Kawasan ini gersang. Tak ada
pepohonan di sana, kecuali hamparan tanaman sawit. Tidak seperti kawasan transmigrasi
lain yang berada di kawasan pertanian, wilayah transmigrasi ini dikelilingi
perkebunan kelapa sawit.
“Saat ditawari jadi transmigran saya langsung mengiyakan.
Saya bercita-cita menjadi petani sukses di sini. Saya punya motto, menciptakan
kota di tengah hutan. Eh sampai di sini ternyata di tengah kebun sawit.
Bukannya jadi petani malah ditawari kerja di kebun sawit,” katanya.
Sore itu, lokasi transmigrasi yang terletak di Desa
Sebunga, Kecamatan Sajingan Besar itu tampak lengang. Di sebuah rumah, Syahrul,
52 tahun, tengah bersantai di depan rumahnya. Transmigran lokal asal Ketapang
itu membuka warung di rumahnya.
“Di sini mau bercocok lahan pun kami belum bisa. Soalnya
kami belum mendapatkan lahan untuk diolah,” katanya. “Warung ini istri yang
urus. Buat nambah-nambah penghasilan. Kalau saya sih kerja apa saja, yang
penting bisa hasilkan uang.”
Meski sudah tinggal di kawasan itu selama 10 bulan sejak
Desember tahun lalu, para transmigran belum mendapatkan lahan garapan. Karena
itu, warga hanya mengandalkan hidup dari jatah yang diberikan pemerintah. Jatah
hidup itu berupa beras, gula, ikan asin, ikan kaleng, minyak makan, garam,
minyak tanah, dan kecap. Karena tidak mendapatkan jatah berupa uang, mereka
bekerja apa saja. Ada yang membuka warung, ada yang bekerja bangunan, dan ada
pula yang bekerja sebagai buruh perkebunan kelapa sawit.
Cuningsih misalnya, transmigran asal Jawa Tengah ini
terpaksa bekerja di perkebunan sawit dengan gaji Rp45 ribu per hari. Suami
Cuningsih sudah meninggal beberapa waktu lalu. Karena itu dia harus membiayai
kehidupan anak-anaknya seorang diri. “Mau berkebun belum ada lahan, kalau mau
kerja lain susah. Yang paling mudah ya kerja sawit. Lokasinya dekat sini,”
katanya.
Selain tanah yang tidak subur, warga juga mengeluhkan
sulitnya mendapatkan air bersih. Untuk
minum warga menggunakan air hujan. Mereka mendapatkan jatah dua drum
untuk menampung air hujan. “Jatah kami hanya dua gentong. Mana mampu. Itu
paling dua minggu sudah habis. Kalau hujan lama tak turun, air sudah habis
duluan,” kata Cuningsih.
Untuk mandi mandi warga harus menggunakan air kolam yang
berada tak jauh dari kebun sawit. Air kolam berwarna hitam itu rentan tercemar
pupuk dan berbagai racun dari perkebunan sawit. Tak heran anak-anak mereka
kerap mengalami gatal-gatal. Namun mereka terpaksa menggunakan air tersebut
sebab kolam yang mereka buat di belakang rumah tak mengeluarkan air. “Anak saya
kemarin sempat gatal-gatal. Kulitnya korengan,” kata Cuningsih yang saat
ditemui tengah memandikan anaknya di sebuah kolam tak jauh dari rumahnya.
Warga mengharapkan pemerintah bisa menyediakan air bersih
ke wilayah mereka, baik dengan membuat sumur bor atau menyediakan pipa besar
untuk mengalirkan air dari kampung sebelah. “Kalau air hujan habis, kami harus
mengambil air di kampung sebelah. Itu belasan kilometer. Jalannya jelek. Tak
mampu kami,” katanya.
Keluhan lain adalah tidak jelasnya batas lahan pekarangan
setiap rumah. Ini menyulitkan mereka untuk menggarap lahan pekarangan mereka.
Alhasil banyak pekarangan yang dibiarkan begitu saja tanpa diolah. “Kalau
batasnya sudah jelas kan enak menggarap lahan. Jadi tidak khawatir menggarap
lahan orang,” kata Jaji, transmigran lain.
Di malam hari, lokasi transmigrasi ini gelap gulita.
Sebab listrik belum masuk ke sana. Warga menggunakan lentera berbahan bakar
minyak tanah sebagai penerangan. Selama 10 bulan ini anak-anak di sana selalu
belajar dengan penerangan seadanya. “Inilah kami harus bertahan hidup
seadanya,” kata Bambang.
Tidak hanya itu kesulitan hidup yang dialami warga di
sana. Karena berada di daerah perbukitan, wilayah ini juga kerap dilanda angin
puting beliung. Di sekitar kawasan itu sudah tidak ada pepohonan sehingga tidak
ada penahan saat angin datang. Beberapa kali puluhan rumah rusak terkena
terjangan angin puting beliung. “Kalau angin datang, atap kerap beterbangan,”
kata Bambang.
Rumah-rumah di sana memang dibangun alakadarnya. Dinding
misalnya tidak dibangun dengan papan atau semen, melainkan berbahan asbes yang
tidak begitu kuat. Karena itu wajar saja saat terkena angin kencang, rumah
warga kerap jebol. “Beberapa kali warga harus mengungsi ke rumah saudara,” kata
Bambang. “Beginilah kondisi kami, tetapi kami terima dengan lapang dada. Kami
hanya ingin pemerintah bisa mencari solusi persoalan kami,” tutupnya. (*)
COMMENTS