Para tetua adat tak henti mengucapkan mantra-mantra. Selama satu malam mereka berjaga, duduk melingkar dan saling bergantian membaca sat...
Para tetua adat tak
henti mengucapkan mantra-mantra. Selama satu malam mereka berjaga, duduk
melingkar dan saling bergantian membaca satu demi satu mantra yang berisi
cerita dan ungkapan rasa syukur. Di tengah mereka ada sebuah lentera dan
setumpuk piring berisi beras dengan satu buah telur di atasnya. Beras dan telur
adalah lambang rejeki, didoakan agar rejeki bisa terus mengalir.
Pagi datang. Pembacaan mantra
semalam suntuk pun usai. Hari ini adalah saatnya para tamu datang. Mereka diterima
dengan upacara penyambutan, lengkap dengan tari-tarian Dayak. Masuk ke rumah
betang, setiap tamu harus melewati satu pintu yang sama, lantas meminum tuak
dari ketan yang disajikan dalam gelas bambu. Ini tradisi warga rumah betang di
Desa Ensaid Panjang, Sintang.
Bijih, seorang tetua
adat, siap melakukan pemberkatan pada setiap tamu yang datang. Bijih memegang
mangkuk berisi air, mencelupkan tangannya, lantas mengusap kepala setiap tamu
dengan air itu.”Saya mendoakan para tamu agar diberi keselamatan dan terhindar
dari bahaya. Datang ke Ensaid Panjang ini agar merasa senang. Semoga hidup
dengan seimbang,” Bijih mendoakan.
Di serambi betang ratusan
orang duduk bersila. Sebagian warga Desa Ensaid Panjang, sebagian lagi tamu dan
wisatawan. Ini saatnya pesta yang ditunggu-tunggu. Makanan dan minuman
tradisional dihidangkan dan dinikmati bersama-sama.
Paule Guilmain ada di
antara mereka yang bersila di serambi betang. Wisatawan asal Kanada ini
jauh-jauh datang dari Ibukota Pontianak untuk menyaksikan acara Gawai. Ia
mengaku terkesan dengan budaya Dayak yang menurutnya unik.
Sesekali Guilmain memotret
hal-hal yang menarik perhatiannya. Di antara sekian hal, yang paling dia sukai
adalah tarian serta kain tenun ikat. ”Ini sangat komplet, unik dan kesemunya bagus,”
katanya.
Gawai adalah acara
temurun yang dilakukan masyarakat Dayak sejak dahulu kala, bahkan sebelum suku
ini mengenal agama. Gawai diselenggarakan sebagai ucapan syukur kepada penguasa
alam, atas panen padi yang mereka peroleh.
Mereka juga mendoakan
benih padi yang akan ditanam. Supaya kegiatan berladang di masa mendatang
terhindar dari bahaya dan menghasilkan panen yang melimpah. ”Ini kan
sebenarnya siklus ya. Dari tahun ke tahun kita berladang. Kita mulai dengan syukur
atas panen yang diberikan, dan mendoakan hasil baik di tahun depan. Ini batas
antara tahun ini dan tahun depan,” Ringan menjelaskan.
***
Hari masih pagi, namun
sebagian warga betang sudah mulai melakukan aktivitasnya. Ini hari kedua Gawai,
saatnya warga melakukan persiapan berandau
atau berkunjung ke bilik tetangga.
Pada rumah betang yang
panjangnya mencapai 130-an meter, setiap keluarga memiliki bilik masing-masing,
yang saling bersebelahan. Berandau adalah simbol rekatnya kekerabatan warga
Dayak.
Sebagian kecil suku
Dayak masih menetap di rumah betang, yakni rumah tradisional khas Kalimantan
yang berbentuk panjang. Dulu warga Dayak senantiasa melaksanakan acara Gawai di
rumah Betang. Namun rumah adat suku Dayak ini kian hari makin sedikit
jumlahnya. Gawai di Desa Ensaid Panjang adalah satu dari sekian acara Gawai,
yang masih dilakukan di rumah betang. Menyaksikan gawai di Ensaid Panjang
berarti bisa sekaligus melihat keunikan rumah betang.
Setiap kali Gawai,
warga Dayak memotong beberapa ekor babi sebagai persembahan. Dagingnya dimakan
bersama dalam pesta tersebut. Persembahan babi adalah bagian dari ritual adat,
kata Dedy Armayadi, seorang aktivis yang kerap mendampingi warga Ensaid Panjang.
Dedy bercerita, dahulu
kala ratusan tahun yang lalu dalam ritual Gawai,
suku Dayak mempersembahkan kepala manusia sebagai sesajian. Kepala manusia ini
didapat dari hasil Ngayau, tradisi berburu kepala saat perang suku. ”Di masa lalu itu lebih ekstrem lagi ya, yang
dipersembahkan kepada penguasa alam, penguasa tanah atau Puyang Gana atau yang
mereka anggap sebagai penguasa lainnya yakni Batara, adalah kepala manusia dari
hasil ngayau,” kata Dedy.
Namun perlahan
kebiasaan ini berubah setelah masuknya agama. Tradisi ngayau pun tidak lagi
dilakukan. Sebagai persembahan saat upacara adat, persembahan kepala manusia
diganti dengan hewan peliharaan. ”Setelah masuknya agama, budaya ngayau ini pun
hilang. Ada yang kemudian mengusulkan korban kepala manusia ini diganti hewan
peliharaan seperti babi atau ayam,” tambahnya
Gawai bagi masyarakat
Dayak bukan upacara biasa. Gawai memiliki makna yang dalam. Mereka percaya,
jika gawai diadakan maka penguasa alam akan memberikan rejeki yang melimpah.
Meski tradisi ini tidak
terpisahkan dari Suku Dayak, tahun demi tahun makna gawai kian memudar. ”Sayangnya saat
ini orang sudah melupakan Gawai seakan-akan hanya sebuah rutinitas,” katanya.
Para
tokoh adat di desa Ensaid Panjang berupaya mengembalikan Gawai ke tradisi awal.
Sisi hura-hura seperti minum tuak dikurangi, sementara unsur ritual adat
diperbanyak. Yang penting, ada unsur kebersamaan, rasa syukur dan gembira.
Kini Gawai telah usai.
Masyarakat Dayak siap-siap untuk bercocok tanam kembali. Rasa syukur terhadap
penguasa alam menjadi bekal menjalani siklus selama setahun berikutnya.
Disertai harapan, kondisi jalan diperbaiki supaya kegiatan ekonomi dan
pariwisata bisa lebih digenjot.**
COMMENTS