suaradetik. Stigma negatif sudah terlanjur melekat pada Kampung Beting. Stigma negatif itu antaralain menyebut bahwa kampung ini adalah s...
suaradetik. Stigma negatif
sudah terlanjur melekat pada Kampung Beting. Stigma negatif itu antaralain
menyebut bahwa kampung ini adalah sarang narkoba dan kampungnya para kriminal.
Akibat stigma ini, warga di sana tak bisa melamar kerja, mengkredit motor, atau
pinjam uang di bank. Hidup jadi lebih sulit.
Suasana kampung
Beting Minggu pagi itu tidak seberapa ramai. Muhammad Said Achmad (58) tokoh
masyarakat Beting sedang duduk di depan rumahnya. Ketika saya berkunjung ke
sana, pria ini menyambut dengan ramah. Sambil duduk di lantai Said Achmad mulai
bercerita tentang kondisi yang dihadapi warga di Kampung Beting. Terutama
terkait stigma negatif yang telanjur melekat pada warga kampung itu.
“Kalau saya pergi
ke luar daerah, orang selalu benarkah Beting itu kampung narkoba. Bahkan ketika saya ke
Miri, Malaysia, ada orang di sana yang tanya. ‘Pak Cik, benarkah kampung beting itu kampung
pembunuh,” cerita Said Achmad. “Begitulah anggapan orang pada Kampung Beting.
Selalu negatif,” tambahnya.
Kampung Beting
selama ini memang dicap sebagai kampungnya para pengedar narkoba dan para
preman. Kampung ini disamakan dengan Kampung Ambon di Jakarta atau kawasan
Bronx lainnya. Kawasan beting oleh polisi dikategorikan sebagai zona
merah.
“Apakah semua
orang Beting itu penjahat? Sehingga kami
semua dicap negatif?” tanya Said Achmad. “Kami tidak bilang bahwa kampung kami ini bersih. Ya, adalah satu dua
orang yang jadi Bandar atau kurir narkoba. Tapi ingat, itu kan hanya segelintir
orang,” ujarnya.
Stigma yang sudah
terlanjur melekat ini ternyata sangat berdampak pada kehidupan warga setempat.
Menurut Said Achmad, penduduk Kampung Beting berjumlah sekitar 2000 KK. Jika
dalam satu keluarga saja ada 4 orang menurut Said jumlah warga beting berarti
sekitar 8000 orang. “Masak gara-gara satu dua orang itu, yang berbuat jelek,
kami yang 8000 orang ini menerima dampaknya,” ujarnya.
Kampung Beting
masuk dalam Kelurahan Dalam Bugis. Beting sendiri adalah kampung yang berada di sekitar
muara sungai. Wilayah kampung beting ini cukup luas, mulai dari kawasan di
dekat keraton hingga ke arah tanjung hilir di pinggiran Sungai Kapuas.
Saya sempat berkeliling di wilayah ini, Minggu 10 Juni lalu melihat kondisi
kehidupan warga di sana. Ini adalah kampung yang sangat padat. Rumah-rumah
berderet-deret di gang yang sempit. Rata-rata rumah berukuran kecil.
Sungai-sungai dipenuhi sampah. Jalan-jalan dalam gang hanya seukuran satu meter
lebih.
“Apakah narkoba itu datang dari langit dan kemudian jatuh di kampung Beting
ini sehingga kami semua dianggap sebagai bandar narkoba? Padahal kan kalau kita
lihat, yang ketangkap itu kan paling kurir saja. Kalau di sini ada pabrik
narkoba, kok masyarakatnya masih miskin-miskin?” ujar Said Achmad.
Juru Bicara Polda Kalbar Mukson Munandar mengatakan wilayah Pontianak Timur
memang rawan dalam peredaran narkoba. Yang paling menonjol menurutnya adalah Kampung
Beting. “Saat ada penangkapan narkoba kebanyakan mengatakan berasal dari Kampung
Beting,” ujar Mukson Munandar.
Menurut Mukson, kebanyakan mereka yang tertangkap memang memiliki
pendidikan yang rendah. “Kebanyakan hanya lulus SD atau SMP. Sehingga mereka
sulit mencari kerja,” ujarnya. Apalagi di kampung Beting tidak ada lahan pertanian
dan pabrik. “Akhirnya mereka pun memilih bisnis narkoba sebagai usahanya,”
ujarnya.
A Harun AR, Kabid Pemberantasan BNN Pontianak mengatakan, sebenarnya ketika
membicarakan tentang narkoba, hampir semua tempat juga berpotensi. “Kalau kita
bicara soal narkoba kan bukan hanya Pontianak Timur. Di barat juga banyak. Kota
juga banyak. Di selatan juga demikian,” ujarnya.
Ahmad Arif, tokoh masyarakat setempat mengatakan, stigma negatif yang
melekat pada kampung beting sangat berpengaruh pada kehidupan warga. Banyak
warga yang sulit melamar kerja. “Warga di sini kalau melamar kerja sering
ditolak. Perusahaan itu kalau tahu KTP si pelamar di Beting, mereka langsung
bilang tidak ada lowongan. Padahal sebenarnya ada (lowongan),” ujar Ahmad Arif.
Pernah tetangganya hendak melamar kerja dan menyerahkan lamaran. Setelah
tahu kalau dia tinggal di Beting Beting, perusahaan langsung menolaknya.
“Diwawancarai saja tidak,” tambahnya.
Sulitnya mendapatkan pekerjaan membuat warga di sana lebih banyak bekerja
serabutan. “Kebanyakan kerja sebagai buruh. Sebagian jadi penambang. Ada juga
yang jualan. Berdagang. Pokoknya kerja informal-lah.”
Karenanya, sebagian besar warga Beting berada pada kondisi ekonomi menengah
ke bawah. “Lihat saja rumah-rumah di sini. Banyak yang mau roboh. Itulah
kondisi kami,” ujar Aswadi Abdullah warga lain. “Kami ini kan tidak semuanya
penjahat, tetapi karena stigma itulah kami jadi dianggap seperti penjahat.”
Selain sulit melamar pekerjaan, warga juga sulit untuk mengambil kredit
motor. Apalagi kredit di bank. “Kalau mereka lihat KTPnya beralamat di Beting,
mereka pasti tidak mau kreditkan motor ke kami,” tambahnya.
Aswadi bercerita, stigma ini tidak membedakan pekerjaan. Pernah Pak Ustad
setempat, yang menjadi tokoh agama di sana, hendak mengkredit motor, tetapi
juga tidak dikabulkan. “Bayangkan, itu pak ustad. Bagaimana kalau warga biasa,”
ujarnya.
Stigma ini juga membuat warga di sana jarang menerima akses bantuan dari
pemerintah. “Di sini kan jumlah penduduknya banyak, tetapi PAUD saja tidak ada.
Terus puskesmas jauh di luar sana. Anak-anak di sini yang mestinya sekolah PAUD
tetapi tidak bisa sekolah,” terang Aswadi.
Kalau mau menyekolahkan anak di PAUD mereka harus ke desa seberang, seperti
Tambelan Sampit atau di Tanjung Raya. Karena tidak adanya PAUD ini, banyak
anak-anak di Kampung Beting yang sulit masuk ke Sekolah Dasar karena sejumlah
sekolah dasar sudah mensyaratkan siswanya lulus PAUD. Warga sangat mengharapkan
ada pembangunan PAUD dan Puskesmas di sana.
Ahmad Arif, tokoh masyarakat beting, mengatakan selama ini bisa dihitung
jari pembangunan yang sudah masuk ke sana. Pemerintah takut memberikan bantuan
ke sini. ”Takut barangnya dicuri warga. Kalau bikin proyek takut materialnya
hilang katanya.”
Ahmad Arif ingat pada 1994 ada proyek pembangunan barau. “Tapi itu sudah
lama,” ujarnya. Yang terbaru pembangunan jalan kampung. Yakni pembangunan
gertak kayu dan diganti cor beton. “Itu bantuan dari PNPM Mandiri Perkotaan,”
ujarnya. Selain bantuan jalan itu, memang bisa dihitung jari ada program yang
masuk ke Beting. Ahmad Arif berharap agar stigma di kampus beting bisa dikikis
agar berbagai program pembangunan bisa masuk ke sana.
Wakil walikota Pontianak, Paryadi mengatakan, Pemerintah masih mencoba
mencari jalan untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi warga beting.
”Menghilangkan stigma di beting itu memang sulit. Karena kawasan ini sudah
dianggap sebagai kawasan Bronx. Kami sedang berpikir keras. Pertama harus
mengubah stigma pandangan masyarakat di sana. Baru setelah itu kita akan coba
kembangkan ekonomi warga di sana,” ujarnya.
**
Warga Beting meminta polisi membersihkan para bandar dan kurir narkoba di
wilayah itu. Supaya warga yang tidak terkait dengan narkoba bisa bersih
namanya. Ini adalah langkah awal untuk mengikis stigma yang sudah terlanjur
melekat di Kampung Beting.
Ketika masuk ke kampung beting, biasanya orang sudah berprasangka buruk
terlebih dahulu. Cap negatif bahwa daerah ini merupakan kawasan yang rawan
sudah terlanjur melekat pada pikiran orang. Arinda, misalnya, warga Pontianak
ini ketika ditanya soal kampung beting juga berpikiran serupa. “Saya sering dengar Kampung Beting itu jadi
kampung narkoba ya? Saya sering dengar di berita,” ujarnya.
Tokoh Masyarakat
Kampung Beting Muhammad Said Achmad mengatakan, apa yang disangka orang selama
ini tidaklah selalu tepat. Said lahir dan besar di Kampung Beting. Dia tahu
sendiri bahwa kondisi di Kampung Beting tak seburuk seperti apa yang disangka
orang banyak. “Kalau tidak percaya, ayo-lah menginap di rumah saya selama beberapa
hari. Saya jamin aman,” ujarnya.
Said tidak
menyangkal bahwa ada sejumlah kecil orang di Beting yang berbisnis narkoba.
Tetapi menurutnya jumlah sangat sedikit bila dibandingkan warga lain yang hidup
biasa-biasa dan bekerja dengan halal.
“Ini yang disebut gara-gara nila setitik rusak santan sebelanga. Gara-gara
sedikit orang rusak warga sekampung Beting,” ujar Usman, warga lain. Menurut
Usman, “nila” setitik itu memang harus dibersihkan, supaya santan sebelanga
tidak ikut rusak. “Kalau memang dianggap bahwa daerah kami banyak narkoba, ya
silakan dibersihkan,” ujar Usman.
Kabid Humas Polda Kalbar AKBP Mukson Munandar dalam diskusi kecil di
Pontianak Post, Selasa lalu, mengatakan pihak kepolisian memang kerap melakukan
upaya penggerebekan narkoba di wilayah Kampung Beting. Kawasan ini dianggap
sebagai zona merah narkoba.
“Banyak yang ditangkap itu, bahkan biasanya satu keluarga. Ada ibu-ibu usia
muda di situ. Bapaknya, anaknya, mantunya,” ujarnya. Menurut data Polda Kalbar,
21 persen kasus narkoba berada di wilayah Pontianak Timur. “Kawasan Beting yang
paling menonjol,” ujarnya.
Mukson bercerita, beberapa waktu lalu jajarannya pernah melakukan operasi
di wilayah Beting. Tetapi ada penolakan dari warga sekitar. “Pulang-pulang,
motor anggota sudah masuk ke parit,” ujarnya.
Warga Beting menolak jika disebut bahwa mereka mendukung narkoba dan
menghalang-halangi polisi yang masuk ke sana. Ahmad Arif, tokoh masyarakat
Beting mengatakan, mereka sangat mendukung upaya polisi dalam menangkap para
bandar narkoba di sana.
“Hanya saja caranya yang perlu lebih lembut. Jangan sampai saat
penggerebekan itu kami ini seperti teroris. Semua penjuru mata angin ada
polisi. Semua rumah dianggap sebagai sarang narkoba. Main pukul. Main dobrak,”
ujarnya.
Operasi seperti ini yang menurut warga sering membuat mereka kesal dan
marah. “Karena kebetulan ada motor polisi di situ, itu yang jadi sasaran.
Dimasukkan ke parit,” kata Usman. “Tapi kemudian yang berkembang adalah bahwa
kami ini menghalang-halangi polisi,” ujarnya.
Warga Beting justru sangat menyayangkan banyaknya tersangka yang dilepaskan
begitu saja setelah ditangkap. “Pernah ya, ada penggerebekan. Tersangka ada. Barang
bukti juga ada. Hari ini ditangkap, eh 3 hari kemudian dia sudah dilepas.
Dibebaskan. Bagaimana itu?” cerita Ahmad Arif.
Camat Pontianak Timur Rizal Muthahar mengatakan, selama ini yang ditangkap
polisi lebih banyak adalah orang-orang level “bawah” seperti kurir atau
pengguna. Sementara bagian “atas” belum disentuh. “Padahal kan di sana yang mulai
menyiapkan ada, yang mengawasi ada, yang nyiapkan rumah ada. Yang nyiapkan
bong-nya ada. Mestinya itu semua bisa dibersihkan,” ujar Rizal Muthahar.
Nuryadi Wijaya dari Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalbar mengatakan
polisi mengalami kesulitan ketika melakukan operasi di wilayah Kampung Beting.
”Rumah di sana sangat rapat. Jalan-jalan di sana sangat mirip. Kalau tidak biasa di
sana bisa tersesat,” ujarnya. Karena itu Polisi mengharapkan kerjasama dari
warga setempat.
Warga kampung beting menyatakan akan mendukung upaya polisi. Warga meminta
upaya pencegahan lebih dikedepankan ketimbang upaya ’pemberatasan’. ”Kalau
disebut upaya pemberantasan itu kan kesannya tidak manusiawi ya. Akan lebih
baik yang dikedepankan itu pencegahannya,” ujar Iskandar, warga setempat.
Warga meminta polisi mengadakan patroli rutin di sana. Pengurus RW setempat
Hamsani mengatakan akan menerima polisi dengan tangan terbuka. ”Jangan minta
kami datang ke Polda kasih informasi. Nanti kami dikira jadi Banpol (petugas
bantuan polisi). Kalau mau, datang saja ke rumah. Silaturahmi. Kami akan
berikan informasi yang dibutuhkan,” ujarnya.
Menurut Hamsani polisi sangat jarang melakukan patroli di sana. Padahal
menurutnya, patroli polisi merupakan salah satu upaya pencegahan. ”Tidak usah bawa
pistol. Pakai saja seragam polisi, orang sudah takut. Sehingga orang tidak
berani main-main dengan narkoba,” ujar Hamsani.
Menurut Hamsani warga butuh sentuhan yang lebih humanis. ”Jadi
pendekatannya bukan pada kekerasan tetapi lebih pada pendekatan yang manusiawi.
Saya jamin warga akan mendukung,” ujarnya.
**
Ada optimisme bahwa stigma di Kampung Beting bisa dikikis pelan-pelan.
Kuncinya ada pada pemberantasan dan pencegahan narkoba, serta yang lebih
penting lagi adalah peningkatan ekonomi warga. Kalau ekonomi sudah berdaya,
stigma akan terkikis dengan sendirinya.
Memang sangat jarang ada diskusi yang melibatkan berbagai kalangan. Karena
tidak saling bertemu, akhirnya saling suudzon atau berprasangka buruk. Warga
kerap menganggap bahwa polisi tidak sungguh-sungguh menangani masalah narkoba
di Kampung Beting. Sebaliknya polisi menilai bahwa warga kerap
menghalang-halangi upaya polisi dalam pemberantasan narkoba di Kampung Beting.
Sementara pemerintah mengeluh bahwa masalah di Kampung Beting ini sangat sulit
untuk diatasi. “Padahal ketika semuanya bertemu, ada banyak hal yang sebenarnya
bisa dilakukan bersama,” tambah Salman.
Terkait bagaimana upaya mengikis stigma di Kampung Beting, sejumlah pihak
memberikan berbagai masukan. Wakil Walikota Pontianak Paryadi mengatakan, salah
satu upaya untuk memberdayakan warga Beting adalah dengan menata kawasan itu
menjadi kawasan pariwisata. “Beting itu kawasan yang unik sebenarnya,” ujar
Paryadi.
Tetapi, menurut Paryadi, penataan kawasan Beting membutuhkan anggaran yang
cukup besar mengingat luasnya wilayah dan padatnya penduduk di sana. ”Untuk
menarik orang untuk datang ke sana, juga harus dipastikan bahwa lokasi ini
aman. Dan orang percaya untuk datang ke sana,” ujarnya.
Warga Beting dalam pertemuan itu menjamin soal keamanan ini. ”Kalau ada
warga yang datang akan kami sambut dengan hangat. Lokasi beting itu selama ini
aman-aman saja,” ujar M Said Achmad, tokoh masyarakat setempat.
Samidin, Koordinator Forum Badan Keswadayaan Masyarakat Pontianak Timur
mengatakan, pembangunan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja bagi warga Beting
adalah hal yang paling penting saat ini. Mengingat selama ini warga Beting
mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan. Bahkan ada sejumlah warga yang
harus berganti alamat KTP bila ingin melamar pekerjaan.
Penciptaan lapangan kerja dan sentuhan pemberdayaan dinilai bisa menurunkan
akan peredaran narkoba di sana. ”Selama ini mungkin mereka yang berbisnis
narkoba itu karena mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan lain. Kemiskinan itu
seperti lingkaran setan,” ujarnya.
Karena miskin banyak warga Beting yang tak sekolah. Karena tak sekolah
mereka tak bisa memperoleh pekerjaan yang layak. Kalaupun sekolah, karena KTP
mereka berlamat di Beting mereka tak diterima perusahaan. ”Jadilah pilihan
paling mudah adalah berbisnis narkoba,” tambah Samidin
Samidin yakin, jika masyarakat beting diberdayakan, mereka akan bisa hidup
dengan lebih baik. Lingkaran kemiskinan bisa diputus. Sehingga bisa memutus
pula stigma yang telah tertanam.
Apa yang disampaikan Samidin diiyakan oleh Iskandar, warga setempat.
Menurut Iskandar, pokok persoalan yang dihadapi warga beting selama ini adalah
sulitnya akses pada pekerjaan. ”Kalau kita mau melamar kerja, itu mereka kan
bilang, wah itu orang beting itu, preman itu. Akhirnya kami tak dapat kerja,”
ujar Iskandar.
Iskandar berharap pemerintah turun tangan. ”Tolong kami, Pak. Kami juga warga negara
Indonesia. Beri kami pelatihan agar bisa bersaing dengan orang-orang luar.
Supaya kalau pun tidak diterima kerja di tempat lain kami bisa menciptakan
lapangan kerja sendiri,” tambahnya.
Masyarakat memang butuh sentuhan. Perlu dilakukan pembinaan. ”Kalau kami
bisa berdaya dan mandiri, image yang melekat pada kami juga pelan-pelan akan
hilang. Apalagi kalau kami bisa sukses,” ujar Usman, warga lain.
Pemberdayaan warga ini bisa melibatkan warga sekitar. Samidin mencontohkan
program pembangunan jalan-jalan di Kampung Beting. “Dananya memang dari PNPM
Mandiri. Tetapi wargalah yang mengerjakan secara gotong royong. Dan ternyata
pembangunan jalan itu berjalan dengan baik,” kata Samidin, menjelaskan. “Dari
situlah kita tahu, ketakutan bahwa program pembangunan yang masuk ke Beting
tidak berjalan ternyata tidak terbukti.”
Polisi juga menyatakan komitmennya mendorong warga Beting dalam mengikis
stigma yang sudah terlanjur melekat. Dalam bahasa polisi adalah “menghijaukan”
kawasan “merah”. Kabid Humad Polda Kalbar AKBP Mukson Munandar mengatakan, akan
menerima masukan-masukan dari masyarakat. “Mari kita sama-sama mengatasi
masalah di kampung Beting ini,” ujar Mukson Munandar.
M Said Achmad berharap bahwa kehidupan mereka di masa depan akan lebih baik
lagi. “Saya sudah merasakan betapa pahitnya mendapatkan stigma jelek, semoga
anak cucu saya nanti bisa terbebas dari stigma ini,” harapnya. **
COMMENTS