Banyak yang Sudah jadi Warga Malaysia Banyak Dai asal Indonesia yang berdakwah di Serawak, Malaysia. Ada yang sudah berubah kewarg...
Banyak yang Sudah
jadi Warga Malaysia
Banyak Dai asal
Indonesia yang berdakwah di Serawak, Malaysia. Ada yang sudah berubah
kewarganegaraan. Digaji layaknya pegawai negeri.
Karim (50) adalah imam masjid Darul
Hidayah, di Kampung Jangkar, Serawak, Malaysia. Usai memimpin salat Magrib,
Karim memberikan ceramah singkat kepada para jamaah yang memenuhi masjid
bertingkat dua itu. Tentu saja dengan logat melayu khas Malaysia. Saya awalnya
tidak menduga bahwa Karim berasal dari Indonesia, jika saja tidak diberitahu oleh
Ustaz Zahri Bin Abdullah, seorang Dai yang mengantarkan kami ke berbagai
tempat.
Karim sudah tinggal di Malaysia sejak 1980.
Saat itu, dirinya hanyalah seorang perantau biasa asal Sambas. Dia pergi ke
Serawak dengan menggunakan sepeda motor. Saat itu belum dibangun pos
pemeriksaaan di perbatasan seperti saat ini. Datang ke seberang juga tak
memerlukan paspor atau pas lintas batas.
Karim bekerja apa
saja, mulai kerja kayu hingga menjadi buruh di perkebunan karet. Karim kemudian
menetap di Kampung Jangkar. Di daerah ini, warga yang beragama Islam masih
tergolong sedikit. Dalam satu kampung paling hanya ada
4 keluarga yang beragama Islam. Tetapi kemudian datang sejumlah pendatang dari
daerah lain. Para pemeluk agama Islam semakin bertambah.
Mereka kemudian mendirikan surau.
Masalahnya tak banyak yang begitu paham soal agama Islam di sana. Karim yang
ketika di Sambas pernah banyak belajar agama Islam menjadi “Dai” bagi warga di
sana. Dia menjadi tempat
bertanya soal agama Islam.
Warga di sana
kemudian mendirikan sebuah surau. Karimlah yang dipercaya menjadi imam. Ketika
anggota jamaah sudah semakin banyak, surau ini tak lagi mampu menampung jamaah.
Maka kemudian Surau ini dibesarkan lagi menjadi sebuah masjid yang diberinama
masjid Darul Hidayah. Karim dipercaya menjadi imam masjid itu.
Di Malaysia tidak
semua orang boleh menjadi imam masjid. Harus ada lisensi khusus yang dikeluarkan oleh pemerintah. Si imam harus
diuji kemampuannya. Semacam uji kompetensi. Jika lolos barulah dia bisa menjadi
imam.
Tetapi imam
masjid di sana bukan sekadar menjadi imam salat. Dia harus menjadi Dai yang
bertanggung jawab terhadap berbagai masalah keagamaan di wilayah itu. “Tugasnya
ya banyak. Pokoknya mengurus jamaah,” ujar ayah dua anak yang kini sudah
menjadi warga negara Malaysia ini. Meski sudah menjadi warga negara Malaysia,
Karim masih sering pulang ke Sambas. “Saya kan masih punya banyak suadara di
sana,” ujarnya.
Sebagai imam
masjid, Karim mendapat gaji dari pemerintah yang disalurkan melalui lembaga
dakwah di sana. Gaji seorang imam adalah sebesar 1000 ringgit atau senilai Rp.3
juta.
Selain Karim, ada
juga Bahruddin Mansur (72). Bahrudin
adalah seorang ulama besar di Malaysia. Sehari-hari, Bahruddin beraktivitas di
sebuah lembaga dakwah bernama Hikmah yang berkantor megah di Kuching, Malaysia.
Hikmah cukup terkenal di Serawak. Meski bukan instansi negara, lembaga ini
memiliki jamaah yang cukup besar.
Bahruddin adalah
lulusan Pesantren Gontor pada 1960 dan kuliah di sebuah kampus di Jakarta. Tetapi
kemudian pada 1980, dirinya diminta bergabung di Hikmah. Tugasnya adalah
memberikan dakwah bagi warga muslim Malaysia, terutama di daerah-daerah. Kini
Bahruddin tinggal dan menetap di Kuching bersama keluarganya. Dia juga sudah
berkewarganegaraan Malaysia.
Meski sudah
berusia lanjut, Bahruddin masih aktif memberi ceramah di berbagai masjid di Malaysia.
dia juga kerap memberikan ceramah bagi warga Indonesia yang ada di Malaysia. “Saya
ini memang sudah berkewarganegaraan Malaysia. Tapi hati saya tetap Indonesia,”
ujarnya setengah bercanda.
Menurut
Bahruddin, banyak warga Indonesia yang menjadi Dai di Malaysia. Dulu awal
datang ke Malaysia, beberapa temannya yang aktif di Hikmah juga berasal dari
Indonesia. “Ada juga yang dari Pontianak. Dai. Sekarang sering berdakwah ke
kampung-kampung,” ujarnya.
Di Serawak,
jumlah warga Muslim hanya mencapai 26 persen. Mereka masih membutuhkan banyak
Dai. Hal ini diakui Idris Ahmad, seorang Dai yang juga aktif di lembaga dakwah
Hikmah. “Di sini masih kekurangan pendakwah. Orang yang kuliah tinggi dan dapat
nilai tinggi tidak mau mengajar agama. Maunya kerja kantor,” ujarnya.
Ahmad Idris
adalah warga Malaysia, tetapi beristrikan orang Indonesia. Idris dulu mondok di
Pesantren Darul Falah di Bogor dan kemudian kuliah di Jakarta. Pulang ke
Malaysia, dia menjadi pendakwah. Dia bertugas berkeliling ke berbagai perkampungan
yang terpencil di Serawak. Menjadi semacam dai keliling.
Dia punya
hubungan baik dengan Bahruddin, Karim dan sejumlah Dai asal Indonesia. Ahmad
Idris juga kerap menjadi penceramah bagi warga Indonesia di Malaysia. Saat
berkeliling ke berbagai wilayah, Idris kerap berinteraksi dengan para pekerja
asal Indonesia. “Saya sering bicara soal agama dengan mereka,” ujarnya.
Selain Ahmad
Idris, ada juga Zahri yang selama ini kerap berinteraksi dengan warga
Indonesia. Zahri adalah warga Malaysia yang juga beristrikan orang Indonesia.
Zahri kerap menyambangi berbagai perkebunan untuk berdakwah. “Kita ini kan satu
rumpun. Dalam dakwah juga tidak mengenal batas negara,” ujarnya.**
COMMENTS