Kakek Paraan yang sudah berusia lebih dari 70 tahun adalah tokoh adat di kampung Long Miting, Desa Tanjung Karang, Kapuas Hulu. Keahlian...
Kakek Paraan yang sudah berusia lebih dari 70 tahun adalah
tokoh adat di kampung Long Miting, Desa Tanjung Karang, Kapuas Hulu.
Keahliannya sangat banyak. Satu di antaranya membuat mandau. Ada keindahan
dalam setiap karyanya.
Pagi itu, Ukuk Paraan tengah sibuk menempa sebuah besi yang
hendak ia bentuk menjadi mandau di sebuah pondok panggung yang tak seberapa
besar di belakang rumahnya. Meski sudah tergolong tua, tangannya masih kuat
mengayunkan palu untuk membentuk besi yang sebelumnya telah dibakar di tungku
perapian.
Sesekali Ukuk Paraan memompa dawan teneh atau tungku perapian
untuk melunakkan besi. Bunga-bunga api memercik ke udara. Api kemudian membesar
membuat udara di sekitar tungku menjadi panas. Ia kemudian meletakkan besi yang
sudah mulai dingin ke dalam tunggu. Ketika bara api sudah memerah di bilah
besi, seketika itu juga dia mengangkatnya, mengambil palu dan memukul besi
panas itu berkali-kali. Jika sudah dingin, Paraan akan kembali meletakkan besi
itu ke dalam perapian. Begitu seterusnya hingga besi itu memiliki rupa.
Ukuk Paraan tinggal di Dusun Long Miting, Desa Tanjung
Karang, Kapuas Hulu. Ini adalah sebuah dusun yang berada di pinggir daerah
aliran sungai (DAS) Mendalam yang berhulu di Tanaman Nasional Betung Kerihun. Ukuk
Paraan adalah tokoh adat di wilayah itu. Ukuk dalam bahasa Dayak Kayaan berarti
kakek. Jadi Ukuk Paraan artinya adalah Kakek Paraan.
Tak mudah untuk sampai ke desa ini. Dari Pontianak menuju
Putussibau diperlukan waktu sekitar 16 jam. Selanjutnya harus menggunakan
perahu motor selama sekitar 2 jam menyusuri daerah aliran sungai Mendalam.
Ukuk Paraan mendapat gelar Lugaan Teneh, yakni gelar lokal
yang disandangnya sebagai pembuat mandau Dayak Kayaan. Mandau Kayaan terkenal memiliki
bentuk dan motif yang indah.
Mandau khas Kayaan biasa disebut malaat. Menurut Paraan, sudah
tak banyak orang yang bisa membuat malaat. Apalagi yang mengetahui makna
filosofis dari setiap bentuk dan motif mandau yang dibuat.
Di desa Tanjung Karang sendiri, Ukuk Paraan adalah
satu-satunya pembuat mandau yang masih tersisa. Sebelumnya memang ada beberapa
orang yang pandai, tetapi kini sudah banyak yang meninggal dunia.
Ukuk Paran yang sudah lanjut usia itu masih lancar bercerita
tentang makna dari setiap detail mandau yang dibuatnya. Misalnya makna gagang, tubuh
mandau, atau ukiran-ukiran di dalam mandau tersebut. “Kebanyakan sebenarnya
bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Tentang manusia, tumbuhan, dan hewan,”
ujarnya.
Ada beberapa jenis Malaat yang bisa dibuat oleh Ukuk Paran,
diantaranya adalah jenis Mubung Bilah, Usung Betung, Lulilt dan Malaat
Layah.
Proses pembuatan Malaat ini diawali dengan memilih besi
sebagai bahan utamanya. Besi diperoleh Ukuk Paran dari Putussibau. Selanjutnya
besi dipotong sesuai ukuran dan dibakar, kemudian ditempa hingga pipih dan
dibentuk sesuai ukuran. Proses menempa dan membentuk Malaat membutuhkan waktu
2-3 hari di sela aktivitas lainnya sehari-hari.
Jika malaat selesai dibentuk, kemudian dilakukan pemasangan
gagang (ha’up) yang terbuat dari tanduk rusa atau kayu pilihan. Proses akhir
adalah membuat sarung Malaat. Biasanya paraan dibantu istrinya, terutama dalam pembuatan
aksesoris mandau.
Saat ini, Malaat bagi suku Dayak Kayaan di DAS Mendalam lebih
banyak digunakan sebagai mas kawin (mahar) pada saat prosesi tunangan dalam
adat Dayak Kayaan. Dari zaman leluhur
dulu, Malaat juga telah digunakan sebagai mahar untuk perkawinan, selain
berfungsi untuk pengeras semangat dan sugesti. “Jika tak ada Malaat serasa ada
yang kurang,” ujar Paraan.
Selain itu, mandau ini juga kerap dijadikan oleh-oleh.
Misalnya jika kebetulan ada pengunjung dari luar dan tertarik untuk memiliki
Mandau, dia bisa membelinya pada Ukuk Paraan. Harga pada kisaran 1 hingga 2
juta rupiah. Tergantung kerumitan dari mandau yang dibuat.
Yohanes Kurnia Irawan, seorang fotografer dari Singkawang mengaku
sangat menyukai bentuk Mandau yang dibuat Ukuk Paraan. Berkali-kali dia
memotret setiap detail dari mandau di rumah Ukuk Paraan. “Indah sekali
bentuknya,” ujarnya.
Seiring perjalanan waktu, Mandau Kayaan yang indah ini akan
hilang ditelan jaman jika tidak ada lagi orang seperti Ukuk Paraan. “Saya
kuatir, setelah saya tak ada lagi, tak
ada yang meneruskan pembuatan malaat ini,” ujar Paraan. **
COMMENTS